Search This Blog

Loading...

Wednesday, September 22, 2010

Aliran Essensialisme

BAB I

PENDAHULUAN

Essensialisme mempunyai tinjauan mengenai kebudayaan dan pendidikan yang berbeda dengan progresevisme. Essensialisme menyebutkan bahwa dalam pendidikan, fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu inilah letak perbedaan essensialisme dan progresivisme. Essensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bersendikan atas nilai-nilai yang dapat mendatangkan kestabilan, yang jelas dan teruji oleh waktu. Nilai tersebut yaitu berasal dari kebudayaan dan filsafat yang bersifat korelatif.

Gerakan essensialisme muncul pada awal tahun 1930 dengan beberapa orang pelopornya, seperti William C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed, dan Isac L. Kandell. Essensialisme suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Essensialisme seperti halnya Perenialisme dan Progresivisme buka merupakan suatu aliran filsafat tersendiri yang mendirikan suatu bangunan filsafat, melainkan merupakan suatu gerakan dalam pendidikan yang memprotes terhadap pendidikan progresivisme. Dalam pemikiran pendidikannya memang pada umumnya didasari atas filasafat tradisional idealisme klasik dan realisme. Namun, mungkin juga mereka memiliki latar belakang pemikiran filsafat yang bervariasi.

BAB II

PEMBAHASAN DAN URAIAN

FILSAFAT PENDIDIKAN ESSENSIALISME

1. Ciri-ciri Filsafat Pendidikan Essensialisme

Essensialisme mempunyai tinjauan mengenai kebudayaan dan pendidikan yang berbeda dengan progresivisme. Kalau progresivisme menganggap bahwa banyak hal itu mempunyai sifat yang serba fleksibel dan nilai-nilai itu berubah dan berkembang, essensialisme menganggap bahwa dasar pijak semacam ini kurang tepat. Dalam pendidikan, fleksibilitas dalam segala bentuk, dapat menjadi sumber timulnya pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu.

Pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang bersifat demikian ini dapat menjadikan pendidikan itu sendiri kehilangan arah. Berhubungan dengan itu pendidikan haruslah bersendikan atas nilai-nilai yang dapat mendatangkan kestabilan. Agar dapat terpenuhi maksud tersebut nilai-nilai itu perlu dipilih yang mempunyai tata yang jelas dan yang telah teruji oleh waktu.

Nilai-nilai yang dapat memenuhi adalah yang berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif.

Idealisme dan realisme adalah aliran-aliran filsafat yang membentuk corak essensialisme. Sumbangan yang diberikan oleh masing-masing ini bersifat elektik. Artinya, dua aliran filsafat ini bertemu sebagai pendukung essensialisme, tetapi tidak lebur menjadi satu. Berarti tidak melepaskan sifat-sifat utama masing-masing.

Gerakan essensialisme muncul pada awal tahun 1930, dengan beberapa orang pelopornya, seperti William C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed, dan Isac L. Kandell. Pada tahun 1938 mereka membentuk suatu lembaga yang disebut “The Essensialisme Commite for The Advancement of American Education”. Bagley sebagai pelopor essensialisme adalah guru besar pada “Teacher College”, Columbia University. Ia yakin bahwa fungsi utama sekolah adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda.

Essensialisme suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Untuk mengangkat filsafat essensialis, Bagley dan rekan-rekannya mendanai jurnal pendidikan, School and Society.

Bagley dan rekan-rekannya yang memiliki kesamaan pemikiran dalam hal pendidikan sangat kritis terhadap praktek pendidikan perogresif. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual an moral diantara kaum muda.

Setelah Perang Dunia II, kritik terhadap pendidikan progresif telah tersebar luas dan tampak merujuk pada satu kesimpulan: sekolah-sekolah gagal dalam tugas mereka mentransmisikan warisan-warisan sosial dan intelektual negara.

Essensialisme, yang memiliki beberapa kesamaan dengan perenialisme, berpendapat bahwa kultur kita telah memiliki suatu pengetahuan umum yang harus diberikan di sekolah-sekolah kepada para siswa dalam suatu acara yang sistematik dan berdisiplin.

Essensialisme, seperti halnya perenialisme dan progresivisme, bukan merupakan suatu aliran tersendiri, yang mendirikan suatu bangunan filsafat melainkan merupakan suatu gerakan dalam pendidikan yang memprotes terhadap pendidikan progresivisme. Dalam pemikiran pendidikannya memang pada umumnya didasari atas filasafat tradisional idealisme klasik dan realisme. Namun, mungkin juga mereka memiliki latar belakang pemikiran filsafat yang bervariasi.

Essensialisme mengadakan protes terhadap progresivisme, namun dengan protes tersebut tidak menolak atau menentang secara keseluruhan pandangan progresivisme seperti halnya yang dilakukan oleh perenialisme. Ada beberapa aspek dari progresivisme yang secara prinsipil tidak dapat diterimanya. Mereka berpendapat bahwa betul-betul ada hal-hal yang esensial dari pengalaman anak yang memiliki nilai essensial dan perlu dibimbing. Semua manusia dapat mengenal yang essensial tersebut apabila apabila manusia berpendidikan. Akar filasafat mereka mungkin idealisme, mungkin realisme, namun kebanyakan mereka tidak menolak epistemologi Dewey.

Essensilisme menyajikan hasil karya mereka untuk :

a) Penyajian kembali materi kutikulum secara tegas.

b) Membedakan program-program di sekolah secara essensial.

c) Mengangkat kembali wibawa guru dalam kelas, yang telah kehilangan wibawanya oleh progresif.

Berbicara tentang perubahan, essensialisme berpendapat bahwa perubahan merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat diubah dalam kehidupan sosial. Mereka mengakui evolusi manusia dalam sejarah, namun evolusi itu harus terjadi sebagai hasil desakan masyarakat secara terus-menerus. Perubahan terjadi sebagai kemampuan intelegensi manusia yang mampu mengenal kebutuhan untuk mengadakan amandmen cara-cara bertindak, organisasi, dan fungsi sosial.

1. Tujuan Pendidikan Menurut Aliran Filsafat Essensialisme

Tujuan pendidikan adalah untuk meneruskan warisan budaya dan warisan sejarah melalui pengetahuan inti yang terakumulasi dan telah bertahan dalam kurun waktu yang lama, serta merupakan suatu kehidupan yang telah teruji oleh waktu dan dikenal oleh semua orang.

PANDANGAN MENGENAI BELAJAR

Idealisme, sebagai filsafat hidup , memulai tinjauannya mengenai pribadi individual dengan menitikberatkan pada aku. Menurut idealisme, bila seseorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikroskosmos menuju makroskosmos.

Sebagai contoh, dengan landasan pandangan diatas, dapatlah dikemukakan pendangan Immanuel Kant (1724-1804). Dijelaskan bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia lewat indera memerlukan unsur a priori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu.

Bila orang berhadapan dengan benda-benda, tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunya bentuk, ruang dan ikatan waktu. Bentuk, ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengamatan atau pengalaman. Jadi, a priori, yang terarah itu bukanlah budi kepada benda, tetapi benda-benda itulah yang terarah kepada budi. Budi membentuk, mengatur dalam ruang dan waktu.

Dengan mengambil landasan pikir diatas, belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. Berarti bahwa belajar itu tidak lain adalah mengadakan penyesuaian dengan mengadakan penyesuaian yang ada.

Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah proses reproduksi dari apa yang terdapat dalam kehidupan sosial. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal dengan sungguh-sungguh nilai-nilai sosial oleh angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan diteruskan kepada angkatan berikutnya.

Pandangan-pandangan realisme di atas mencerminkan adanya dua jenis determinisme yaitu mutlak dan determinisme terbatas. Yang mutlak, menunjukkan bahwa belajar adalah mengenai hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada, yang bersama-sama membentuk dunia ini. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis. Banyak tata dalam alam ini seperti teraturnya perjalanan matahari, perbedaan letak kawasan.

Essensialisme menekankan pada apa yang mendukung pengetahuan dan keterampilan yang diyakini penting yang harus diketahui oleh para anggota masyarakat yang produktif.

PANDANGAN MENGENAI KURIKULUM

Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Bersumber atas pandangan ini, kegiatan-kegiatan pendidikan dilakukan. Pandangan dari dua tokoh akan dipaparkan di bawah ini.

Herman Harrel Horne menulis dalam bukunya yang berjudul This New Education mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan atas fundamen tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik tersebut. Atas dasar ketentuan ini berarti bahwa kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen itu.

Semua yang ideal baik, yang berisi manifestasi dari intelek, emosi dan kemauan, ini semua perlu menjadi sumber kurikulum. Berhubung dengan itu kurikulum hendaklah berisikan ilmu pengetahuan, kesenian dan segala yang dapat menggerakkan kehendak manusia.

Kurikulum

Kurikulum esensialis menekankan pengajaran fakta-fakta kurikulum itu kurang memiliki kesabaran dengan pendekatan-pendekatan tidak langsung dan introspektif yang diangkat oleh kaum progresivisme. Beberapa orang essensialis bahkan memandang seni dan ilmu sastra sebagai embel-embel dan merasa bahwa pelajaran IPA dan teknik serta kejuruan yang sukar adalah hal-hal yang benar-benar penting yang diperlukan siswa agar dapat memberikan kontribusi pada masyarakat.

Kurikulum essensialisme seperti halnya perenialisme, yaitu kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran (subject matter centered). Di sekolah dasar penekanannya pada kemampuan dasar membaca, menulis, dan matematika. Di sekolah menengah diperluas dengan perluasan pada matematika sains, humaniora, bahasa, dan sastra.

Penguasaan terhadap materi kurikulum tersebut merupakan dasar yang essensial bagi “general education” (filsafat, matematika, IPA, sejarah, bahasa, seni, dan sastra) yang diperlukan dalam hidup. Belajar dengan tepat berkaitan dengan disiplin tersebut akan mampu mengembangkan pikiran (kemampuan nalar) siswa dan sekaligus membuatnya sadar akan dunia fisik sekitarnya. Menguasai fakta dan konsep dasar disiplin yang essensial merupakan suatu keharusan.

Bogoslouky, dalam bukunya The Idea School, mengutarakan hal-hal yang lebih jelas dari Horne. Di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain, kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian, ialah:

a) Universum. Pengetahuan yang merupakan latar belakang dari segala manifestasi hidup manusia. Di antaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam, asal-usul tata surya dan lain-lainnya. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas.

b) Sivilisasi. Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan terhadap lingkungannya, mengejar kebutuhan, dan hidup aman dan sejahtera.

c) Kebudayaan. Karya manusia yang mencakup di antaranya filsafat, kesenian, kesusasteraan, agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan.

d) Kepribadian. Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik, fisiologis, emosional dan intelektual sebagai keseluruhan, dapat berkembang harmonis dan organis, sesuai dengan kemampuan yang ideal tersebut.

BAB III

Kesimpulan

Essensialisme mempunyai tinjauan mengenai kebudayaan dan pendidikan bahwa dasar pijak semacam ini kurang tepat. Dalam pendidikan, fleksibilitas dalam segala bentuk , dapat menjadi sumber timbulnya pendangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu. Pendidikan haruslah bersendikan nilai-nilai yang dapat mendatangkan kestabilan. Nilai-nilai tersebut dipilih yang mempunyai tata yang jelas dan teruji oleh waktu. Nilai tersebutadalah yang berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif.

Essensilisme suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap trend-trend progresif di sekolah-sekolah.

Pandangan mengenai belajar, belajar menerima dan mengenai sungguh-sungguh nilai-nilai sosial oleh angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan diteruskan kepada angkatan berikutnya. Pandangan mengenai kurikulum pada essensialisme yaitu berpusat pada mata pelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Sadullah, Uyoh. 2007. Pengantar Filasafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Burnadib, Imam. 1965. Filsafat Pendidikan Sastra dan Metode. Yogyakarta: Andi Offset.

Meyer, Adolph. 1956. The Development of Education in The Twentieth Century,

No comments:

Post a Comment