Search This Blog

Loading...

Wednesday, September 22, 2010

Aliran Essensialisme

BAB I

PENDAHULUAN

Essensialisme mempunyai tinjauan mengenai kebudayaan dan pendidikan yang berbeda dengan progresevisme. Essensialisme menyebutkan bahwa dalam pendidikan, fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu inilah letak perbedaan essensialisme dan progresivisme. Essensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bersendikan atas nilai-nilai yang dapat mendatangkan kestabilan, yang jelas dan teruji oleh waktu. Nilai tersebut yaitu berasal dari kebudayaan dan filsafat yang bersifat korelatif.

Gerakan essensialisme muncul pada awal tahun 1930 dengan beberapa orang pelopornya, seperti William C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed, dan Isac L. Kandell. Essensialisme suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Essensialisme seperti halnya Perenialisme dan Progresivisme buka merupakan suatu aliran filsafat tersendiri yang mendirikan suatu bangunan filsafat, melainkan merupakan suatu gerakan dalam pendidikan yang memprotes terhadap pendidikan progresivisme. Dalam pemikiran pendidikannya memang pada umumnya didasari atas filasafat tradisional idealisme klasik dan realisme. Namun, mungkin juga mereka memiliki latar belakang pemikiran filsafat yang bervariasi.

BAB II

PEMBAHASAN DAN URAIAN

FILSAFAT PENDIDIKAN ESSENSIALISME

1. Ciri-ciri Filsafat Pendidikan Essensialisme

Essensialisme mempunyai tinjauan mengenai kebudayaan dan pendidikan yang berbeda dengan progresivisme. Kalau progresivisme menganggap bahwa banyak hal itu mempunyai sifat yang serba fleksibel dan nilai-nilai itu berubah dan berkembang, essensialisme menganggap bahwa dasar pijak semacam ini kurang tepat. Dalam pendidikan, fleksibilitas dalam segala bentuk, dapat menjadi sumber timulnya pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu.

Pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang bersifat demikian ini dapat menjadikan pendidikan itu sendiri kehilangan arah. Berhubungan dengan itu pendidikan haruslah bersendikan atas nilai-nilai yang dapat mendatangkan kestabilan. Agar dapat terpenuhi maksud tersebut nilai-nilai itu perlu dipilih yang mempunyai tata yang jelas dan yang telah teruji oleh waktu.

Nilai-nilai yang dapat memenuhi adalah yang berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif.

Idealisme dan realisme adalah aliran-aliran filsafat yang membentuk corak essensialisme. Sumbangan yang diberikan oleh masing-masing ini bersifat elektik. Artinya, dua aliran filsafat ini bertemu sebagai pendukung essensialisme, tetapi tidak lebur menjadi satu. Berarti tidak melepaskan sifat-sifat utama masing-masing.

Gerakan essensialisme muncul pada awal tahun 1930, dengan beberapa orang pelopornya, seperti William C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed, dan Isac L. Kandell. Pada tahun 1938 mereka membentuk suatu lembaga yang disebut “The Essensialisme Commite for The Advancement of American Education”. Bagley sebagai pelopor essensialisme adalah guru besar pada “Teacher College”, Columbia University. Ia yakin bahwa fungsi utama sekolah adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda.

Essensialisme suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Untuk mengangkat filsafat essensialis, Bagley dan rekan-rekannya mendanai jurnal pendidikan, School and Society.

Bagley dan rekan-rekannya yang memiliki kesamaan pemikiran dalam hal pendidikan sangat kritis terhadap praktek pendidikan perogresif. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual an moral diantara kaum muda.

Setelah Perang Dunia II, kritik terhadap pendidikan progresif telah tersebar luas dan tampak merujuk pada satu kesimpulan: sekolah-sekolah gagal dalam tugas mereka mentransmisikan warisan-warisan sosial dan intelektual negara.

Essensialisme, yang memiliki beberapa kesamaan dengan perenialisme, berpendapat bahwa kultur kita telah memiliki suatu pengetahuan umum yang harus diberikan di sekolah-sekolah kepada para siswa dalam suatu acara yang sistematik dan berdisiplin.

Essensialisme, seperti halnya perenialisme dan progresivisme, bukan merupakan suatu aliran tersendiri, yang mendirikan suatu bangunan filsafat melainkan merupakan suatu gerakan dalam pendidikan yang memprotes terhadap pendidikan progresivisme. Dalam pemikiran pendidikannya memang pada umumnya didasari atas filasafat tradisional idealisme klasik dan realisme. Namun, mungkin juga mereka memiliki latar belakang pemikiran filsafat yang bervariasi.

Essensialisme mengadakan protes terhadap progresivisme, namun dengan protes tersebut tidak menolak atau menentang secara keseluruhan pandangan progresivisme seperti halnya yang dilakukan oleh perenialisme. Ada beberapa aspek dari progresivisme yang secara prinsipil tidak dapat diterimanya. Mereka berpendapat bahwa betul-betul ada hal-hal yang esensial dari pengalaman anak yang memiliki nilai essensial dan perlu dibimbing. Semua manusia dapat mengenal yang essensial tersebut apabila apabila manusia berpendidikan. Akar filasafat mereka mungkin idealisme, mungkin realisme, namun kebanyakan mereka tidak menolak epistemologi Dewey.

Essensilisme menyajikan hasil karya mereka untuk :

a) Penyajian kembali materi kutikulum secara tegas.

b) Membedakan program-program di sekolah secara essensial.

c) Mengangkat kembali wibawa guru dalam kelas, yang telah kehilangan wibawanya oleh progresif.

Berbicara tentang perubahan, essensialisme berpendapat bahwa perubahan merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat diubah dalam kehidupan sosial. Mereka mengakui evolusi manusia dalam sejarah, namun evolusi itu harus terjadi sebagai hasil desakan masyarakat secara terus-menerus. Perubahan terjadi sebagai kemampuan intelegensi manusia yang mampu mengenal kebutuhan untuk mengadakan amandmen cara-cara bertindak, organisasi, dan fungsi sosial.

1. Tujuan Pendidikan Menurut Aliran Filsafat Essensialisme

Tujuan pendidikan adalah untuk meneruskan warisan budaya dan warisan sejarah melalui pengetahuan inti yang terakumulasi dan telah bertahan dalam kurun waktu yang lama, serta merupakan suatu kehidupan yang telah teruji oleh waktu dan dikenal oleh semua orang.

PANDANGAN MENGENAI BELAJAR

Idealisme, sebagai filsafat hidup , memulai tinjauannya mengenai pribadi individual dengan menitikberatkan pada aku. Menurut idealisme, bila seseorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikroskosmos menuju makroskosmos.

Sebagai contoh, dengan landasan pandangan diatas, dapatlah dikemukakan pendangan Immanuel Kant (1724-1804). Dijelaskan bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia lewat indera memerlukan unsur a priori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu.

Bila orang berhadapan dengan benda-benda, tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunya bentuk, ruang dan ikatan waktu. Bentuk, ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengamatan atau pengalaman. Jadi, a priori, yang terarah itu bukanlah budi kepada benda, tetapi benda-benda itulah yang terarah kepada budi. Budi membentuk, mengatur dalam ruang dan waktu.

Dengan mengambil landasan pikir diatas, belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. Berarti bahwa belajar itu tidak lain adalah mengadakan penyesuaian dengan mengadakan penyesuaian yang ada.

Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah proses reproduksi dari apa yang terdapat dalam kehidupan sosial. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal dengan sungguh-sungguh nilai-nilai sosial oleh angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan diteruskan kepada angkatan berikutnya.

Pandangan-pandangan realisme di atas mencerminkan adanya dua jenis determinisme yaitu mutlak dan determinisme terbatas. Yang mutlak, menunjukkan bahwa belajar adalah mengenai hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada, yang bersama-sama membentuk dunia ini. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis. Banyak tata dalam alam ini seperti teraturnya perjalanan matahari, perbedaan letak kawasan.

Essensialisme menekankan pada apa yang mendukung pengetahuan dan keterampilan yang diyakini penting yang harus diketahui oleh para anggota masyarakat yang produktif.

PANDANGAN MENGENAI KURIKULUM

Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Bersumber atas pandangan ini, kegiatan-kegiatan pendidikan dilakukan. Pandangan dari dua tokoh akan dipaparkan di bawah ini.

Herman Harrel Horne menulis dalam bukunya yang berjudul This New Education mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan atas fundamen tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik tersebut. Atas dasar ketentuan ini berarti bahwa kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen itu.

Semua yang ideal baik, yang berisi manifestasi dari intelek, emosi dan kemauan, ini semua perlu menjadi sumber kurikulum. Berhubung dengan itu kurikulum hendaklah berisikan ilmu pengetahuan, kesenian dan segala yang dapat menggerakkan kehendak manusia.

Kurikulum

Kurikulum esensialis menekankan pengajaran fakta-fakta kurikulum itu kurang memiliki kesabaran dengan pendekatan-pendekatan tidak langsung dan introspektif yang diangkat oleh kaum progresivisme. Beberapa orang essensialis bahkan memandang seni dan ilmu sastra sebagai embel-embel dan merasa bahwa pelajaran IPA dan teknik serta kejuruan yang sukar adalah hal-hal yang benar-benar penting yang diperlukan siswa agar dapat memberikan kontribusi pada masyarakat.

Kurikulum essensialisme seperti halnya perenialisme, yaitu kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran (subject matter centered). Di sekolah dasar penekanannya pada kemampuan dasar membaca, menulis, dan matematika. Di sekolah menengah diperluas dengan perluasan pada matematika sains, humaniora, bahasa, dan sastra.

Penguasaan terhadap materi kurikulum tersebut merupakan dasar yang essensial bagi “general education” (filsafat, matematika, IPA, sejarah, bahasa, seni, dan sastra) yang diperlukan dalam hidup. Belajar dengan tepat berkaitan dengan disiplin tersebut akan mampu mengembangkan pikiran (kemampuan nalar) siswa dan sekaligus membuatnya sadar akan dunia fisik sekitarnya. Menguasai fakta dan konsep dasar disiplin yang essensial merupakan suatu keharusan.

Bogoslouky, dalam bukunya The Idea School, mengutarakan hal-hal yang lebih jelas dari Horne. Di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain, kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian, ialah:

a) Universum. Pengetahuan yang merupakan latar belakang dari segala manifestasi hidup manusia. Di antaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam, asal-usul tata surya dan lain-lainnya. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas.

b) Sivilisasi. Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan terhadap lingkungannya, mengejar kebutuhan, dan hidup aman dan sejahtera.

c) Kebudayaan. Karya manusia yang mencakup di antaranya filsafat, kesenian, kesusasteraan, agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan.

d) Kepribadian. Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik, fisiologis, emosional dan intelektual sebagai keseluruhan, dapat berkembang harmonis dan organis, sesuai dengan kemampuan yang ideal tersebut.

BAB III

Kesimpulan

Essensialisme mempunyai tinjauan mengenai kebudayaan dan pendidikan bahwa dasar pijak semacam ini kurang tepat. Dalam pendidikan, fleksibilitas dalam segala bentuk , dapat menjadi sumber timbulnya pendangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu. Pendidikan haruslah bersendikan nilai-nilai yang dapat mendatangkan kestabilan. Nilai-nilai tersebut dipilih yang mempunyai tata yang jelas dan teruji oleh waktu. Nilai tersebutadalah yang berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif.

Essensilisme suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap trend-trend progresif di sekolah-sekolah.

Pandangan mengenai belajar, belajar menerima dan mengenai sungguh-sungguh nilai-nilai sosial oleh angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan diteruskan kepada angkatan berikutnya. Pandangan mengenai kurikulum pada essensialisme yaitu berpusat pada mata pelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Sadullah, Uyoh. 2007. Pengantar Filasafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Burnadib, Imam. 1965. Filsafat Pendidikan Sastra dan Metode. Yogyakarta: Andi Offset.

Meyer, Adolph. 1956. The Development of Education in The Twentieth Century,

Monday, June 28, 2010

USA-ENGLISH

Gasoline - petrol
Truck - Lorry
Baggage - Luggage
Blow-out - Puncture
Sidewalk - Pavement
Line - Queue
Vacation - Holiday
Trunk (of car) - Boot
Hood (of car) - Bonnet
Cab - Taxi
Freeway - Motorway
Round trip - Return
Railway car - Railway carriage
Engineer (on train) - Engine driver
Baby carriage – pram

Antenna - Aerial
Elevator - Lift
Eraser - Rubber
Apartment - Flat
Closet - Wardrobe
Drapes - Curtains
Faucet - Tap
Kerosene - Paraffin
Scotch tape - Sellotape
Yard - Garden
Cookie - Biscuit
Candy - Sweets
Garbage ¬- Rubbish
Diaper - Nappy
Panti-hose - Tights

A bill - A (bank) note - A check ( in a café)
The first floor - The ground floor - The second floor
Pants ¬– Trousers - Underpants
Potato chips - Potato crisps - French fries
Purse - A handbag - A wallet
Subway - An underground railway - An underpass
Vest - A waistcoat - An undershirt
Wash up - Wash your hands - Wash the dishes

Thursday, June 24, 2010

PERADABAN ISLAM DI SPANYOL PADA MASA DAULAH BANI UMAYAH

PERADABAN ISLAM DI SPANYOL PADA MASA DAULAH BANI UMAYAH



I. SEBAB-SEBAB PENAKLUKAN SPANYOL

Orang-orang Islam sedang memperluas daerah kekuasaannya ke mana-mana. Mereka menaklukan Afrika Utara yang dipisahkan dari sepanyol hanya oleh sebuah selat. Oleh karena itu, wajarlah bila mereka dapat menaklukan jazirah itu. Lagipula, pada saat penaklukan oleh orang-orang Islam, keadaan sosial politik, dan ekonomi Spanyol menyedihkan, dan kejahatan sudah lama berkecamuk, Spanyol merupakan provinsi kekaisaran Romawi. Ketika Kekaisaran Romawi diserbu oleh bangsa Teutonik, harapan akan keadaan lebih baik akan sirna, bahkan keadaanya semakin memburuk. Negeri itu terpecah menjadi sejumlah Negara kecil.[1]

Ketidak toleran agama dari para penguasa Got membuka jalan bagi penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam. Mereka tidak bisa bersikap toleran terhadap agama lain kecuali Kristen. Di Spanyol banyak penduduk Yahudi. Mereka sangat tertekan oleh raja-raja, kepala-kepala suku, bangsawan-bangsawan, dan pendeta-pendeta dari Got. Mereka berusaha untuk mengangkat senjata, tetapi mereka dijadikan budak-budak Kristen. Provinsi Sarasen di selatan Gibraltar dianggap sebagai surga keamanan, dan banyak orang Spanyol pergi ke Afrika muslim sebagai tempat berlindung. Oleh karena itu, wajarlah bila pada guncangan pertama pemerintahan Got itu jatuh, dan orang-orang Spanyol ini tentu saja akan bergabung dengan orang-orang Islam yang telah memperoleh reputasi bagi pemerintahan yang lebih baik dan persaudaraan yang universal. Ketika orang-orang Islam menyerbu Spanyol, orang-orang ini mendukung mereka.[2]

Keadaan sosial Spanyol merupakan suatu pembuka jalan bagi penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam. Struktur sosialnya berada dalam keadaan menyedihkan. Bangsa itu terbagi kedalam tiga kelas. Kelas bangsawan merupakan kelas yang diistimewakan dan dikecualikan dari membayar pajak-pajak. Kelas yang lebih rendah, yaitu mayoritas penduduk yang jumlahnya sangat besar, dibiarkan hidup berantakan dan sengsara yang paling parah. Keadaan negeri atau penduduknya belum pernah begitu buruk dan salah urus seperti di bawah kekuasaan raja Gotik yang menindas itu. Maka masyarakat diliputi kemiskinan, penderitaan, dan ketidak adilan. Dalam keadaan semacam itu mereka mencari sang pembebas, dan mereka menemukannya pada orang-orang Islam.[3]



II. PROSES MASUKNYA ISLAM DI SPANYOL

Sebagaimana disebutkan dalam diskusi sebelumnya, Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang Khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari dinasti Bani Umayah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik Ibn Marwan (685-705 M). Khalifah Abdul Malik mengangkat Hasan ibn Nu’man Al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah Al-Walid, Hasan ibn Nu’man sudah digantikan oleh Musa ibn Nushair. Di zaman Al-Walid itu, Musa ibn Nushair memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Selain itu, ia juga menyempurnakan penaklukan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa barbar di pergunungan-pergunungan, sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji tidak akan berbuat kekacauan-kekacauan seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Penaklukan atas wilayah Afrika Utara itu pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu propinsi dari Khalifah Bani Umayah yang memakan waktu selamakurang lebih 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa Al-Walid). Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, dikawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gothik. Kerajaan ini sering menghasut penduduk agar membuat kerusuhan dan menentang kekuasaan Islam. Setelah kawasan ini betul-betul dapat dikuasai, umat Islam mulai memusatkan perhatiannya untuk menaklukan Spanyol. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol.[4]

Faktor-faktor ini juga menyebabkan kaum muslimin memandang ringan terhadap Negeri-negeri itu. Maka timbullah pikiran untuk melancarkan serangan ke daerah tersebut. [5]

Kemudian datanglah suatu peluang yang baik untuk melaksanakan pikiran itu, yaitu ketika Roderik merebut singgasana Spanyol. Peristiwa ini menyebabkan putera-putera raja yang lama, Witiza, sangat marah dan mereka mengadakan perjanjian persekutuan dengan kaum muslimin. Begitu pula telah terjadi perselisihan antara Count Julian yang memegang pemerintahan di lain. Perselisihan ini kabarnya karena Roderik mencemarkan kehormatan puteri dari Julian. Karena itu Julian ingin membalas dendam untuk membela kehormatan dan nama baiknya. Ia berusaha mendorong kaum Muslimin supaya menyerbu ke Spanyol. Digambarkannya keuntungan-keuntungan yang bisa diperoleh dari penyerbuan itu. Dan ia berjanji untuk kerjasama dengan mereka guna tercapainya tujuan itu.

Sukses yang diperoleh Tharif ini mendorong Amir Qairawan untuk melakukan suatu tindakan yang pasti, guna mendapatkan kekuasaan dan stabilitas di Andalus, sesudah Tharif merintis jalan kesana. Tugas yang berat ini diserahkannya kepada maulanya, pahlawan besar Thariq ibnu Ziyad. Maka berangkatlah Thariq memimpin 7000 orang tentara yang terdiri dari bangsa Babar. Mereka menyebrangi selat itu dengan kapal-kapal yang disediakan oleh Julian, penguasa di Septah, yang dulunya pernah pula menyediakan kapal-kapal untuk Tharif dan pasukannya. Ini terjadi pada bulan Rajab atau Sya’ban tahun 92 H. Thariq beserta pasukannya kemudian mendarat dan menempati suatu gunung yang sampai kini masih dikenal dengan namanya sendiri, yaitu “jabal Thariq” (Giblatar). Disanalah Thariq mempersiapkan satuan-satuannya untuk menyerbu semenanjung yang luas dan makmur itu.[6]

Thariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol, karena pasukannya lebih besar dari hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian lagi orang arab yang dikirim Khalifah Al-Walid. Pasukan itu kemudian menyebrangi Selat dibawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya. Dikenal dengan nama Giblatar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam Pertempuran di suatu tempat bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada, dan Toledo (Ibu kota kerajaan Goth saat itu). Sebelum Thariq menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nushair di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5.000 personel, sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Ghotik yang jauh lebih besar, 100.000 orang.

Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa ibn Nushair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat menyebrangi selat itu dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukkannya. Setelah Musa berhasil menaklukan Sidonia, Karmona, Seville dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navare.[7]

Selanjutnya Thariq menggerakkan pasukannya ke pusat kekuasaan Roderick di Spanyol. Roderick terdesak sampai perbatasan tebing sungai Guadelete, di perbatasan antara Medinia dan Sidonia. Merasa tidak ada jalan lain, akhirnya Roderick meninggal dengan terjun ke dalam sungai Guadelete. Setelah berhasil dalam pertempuran melawan Roderick, Thariq dengan mudah menaklukan kota Sidonia, Carmona, dan Granada. Setelah menaklukan kota Cordova, ia segera bergerak ke Toledo, Ibukota pemerintahan Spanyol dan berhasil menguasainya. Jadi dalam waktu singkat, pasukan Thariq berhasil menguasai sebagian besar wilayah Spanyol.

Kesuksesan Thariq yang gemilang menarik perhatian Musa ibn Nusyair. Ia mendarat di Spanyol dengan 18.000 pasukan pada bulan Juli 712 M., dan segera menaklukan kota Saville dan sejumlah kota kecil lainnya. Di dekat kota Toledo Musa menjumpai Thariq. Dengan sikap marah Musa menanyakan prihal harta rampasan perang selama ini, namun akhirnya mereka mencapai kesepakatan sehingga terbentuklah pasukan gabungan. Pasukan gabungan itu dengan mudah menaklukkan kota sarragosa, Terragona dan Barcelona. Selanjutnya Musa mengerahkan pasukannya karah Timur untuk menaklukkan negeri-negeri Eropa lainnya. Sementara itu kabar mengenai perlakuan Musa terhadap Thariq ibn Ziyad terdengar sampai Damaskus, Sehingga Raja Walid I memerintahkan Musa kembali ke Damaskus.[8]

Orang tak dapat membenarkan riwayat yang menggambarkan adanya rasa permusuhan dan saling membenci antara Musa dan Thariq, dan bahwa Musa pernah menganiaya dan mempersalahkan Thariq. Semua fakta yang ada dihadapan kita bahkan menunjukkan adanya kerjasama yang erat antara kedua pahlawan itu. Musa telah mengirim bala bantuan kepada Thariq, dan kemudian ia sendiri datang kesana dan menaklukkan negeri-negeri yang berada di belakang pasukan Thariq. Dengan demikian ia telah berusaha untuk menghindarkan pasukan-pasukan Thariq dari pukulan musuh dari belakang. Selanjutnya, kedua pahlawan itu terus maju bergandeng bahu dan bekerja sama dalam menaklukkan negeri-negeri yang masih tertinggal, hingga akhirnya mereka mencapai kemenangan yang sempurna di daerah itu. Melihat fakta-fakta ini bagaimana pula kita bias bekata bahwa antara kedua pahlawan itu ada rasa permusuhan?[9]

Sebelum meninggalkan Spanyol, Musa mengatur keperluan untuk tegaknya wilayah yang baru saja ditaklukkannya. Ia mengangkat ketiga putranya : Abdul Aziz sebagai Raja muda di Spanyol, Abdullah sebagai gubernur di Afrika, dan Abdul Malik sebagai gubernur Maroko. Dengan membawa harta rampasan dalam jumlah yang besar, Musa kembali ke Damaskus untuk diserahkan kepada Raja Walid I, namun sang raja meninggal sebelum Musa tiba di Damaskus.

Penaklukan pasukan muslim terhadap Spanyol merupakan lembaran baru yang gemilang bagi sejarah negeri ini. Penaklukan tersebut menyelamatkan wilayah Spanyol dari Tirani. Ghotik, dengan membuka suatu era baru di mana kebenaran dan keadilan ditegakkan. Prinsip persaudaraan universal diterapkan kepada seluruh rakyat. Kebebasan beragama terjamin, baik bagi mereka yang beragama yahudi maupun Kristen. Sekalipun atas mereka diwajibkan membayar jizya, namun terasa sangat ringan dibandingkan beban berbagai pajak yang dipikul mereka pada masa sebelum pemerintahan muslim. Segala bentuk perpajakan yang memberatkan rakyat dihapuskan dan digantikan dengan sistem perpajakan yang adil. Para budakdan hamba sahaya dibebaskan. Perdagangan dan perniagaan mengalami kemajuan pesat. Pertanian dikembangkan dengan membangun sejumlah sistem irigrasi. Pembangunan menjadikan sejumlah kota di Spanyol berdiri dengan megah. Cordova merupakan simbol kehebatan pada abad pertengahan, suatu abad di mana bangsa Eropa tengah dilanda kegelapan dan kebodohan. Spanyol merupakan satu-satunya negeri Eropa yang pertama kali mengalami masa pencerahan lantaran kemajuan pendidikan dan peradaban, pada saat itu kemajuan pendidikan dan peradaban Spanyol selama masa pemerintahan muslim mengantarkan negeri-negeri Eropa lainnya mencapai masa pencerahan, di masa belakangan.

Demi ketertiban urusan administrasi, pemerintahan muslim di Spanyol dibagi menjadi empat wilayah provinsi, masing-masing di bawah penguasaaan gubernur. Masyarkat Spanyol diberikan kebebasan beragama dan antara mereka dengan kaum emigrant Arab Muslim menjalin integritas masyarakat, bahkan dalam urusan perkawinan sekalipun. Mereka diberikan kebebasan hidup, beragama dan kebebasan berfikir. Selama masa ini masyarakat Spanyol mengalami kemajuan pesat dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, sehingga Spanyol mencapai puncak kemajuan, pada saat itu, selama pemerintahan Muslim.[10]



III. PERKEMBANGAN ISLAM DI SPANYOL

Sejak pertama kali berkembang di Spanyol sampai dengan berakhirnya kekuasaan Islam di sana, Islam telah memainkan peranan yang sangat besar. Masa ini berlangsung selama hampir 8 abad (711-1492 M). Pada tahap awal semenjak menjadi wilayah kekuasaan Islam, Spanyol diperintah oleh wali-wali yang diangkat oleh pemerintahan Bani Umayah di Damaskus. Periode ini kondisi sosial politik di Spanyol masih diwarnai perselisihan disebabkan karena kompleksitas etnis dan golongan. Selain itu juga timbul gangguan dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di wilayah-wilayah pedalaman. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdur Rahmad Al-Dhalil ke Spanyol pada tahun 138 H/755 M.[11]



a. Periode Pertama (711-755 M)

Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi baik datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elit penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Di samping itu, terdapat perbedaan pandangan terhadap khalifah di Damaskus dan Gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa, merekalah yang berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat. Perbedaan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Di dalam etnis Arab sendiri, terdapat dua golongan yang terus menerus bersaing, yaitu suku Qaisy (Arab Utara) dan Arab Yunani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini seringkali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu yang agak lama.

Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pergunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir Islam dari bumi Spanyol.

Karena seringnya terjadi konflik internal dan berperang menghadapi musuh luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan dipandang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd Al-Rahman Al-Dakhil ke Spanyol pada tahun 13 H/755 M.[12]



b. Periode Kedua (755-912 M)

Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (Panglima atau Gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintah. Spanyol menjadi bagian dari imperium Islam dalam masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik. Sejak itu Spanyol merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Islam. Bangsa Spanyol bahagia dan makmur di bawah pemerintahan Muslim. Ia tetap menjadi bagian dari kekhalifahan Umayah hingga pecahnya pemberontakan Abbasiyah. Abbasiyah berhasil menegakkan kekuasaannya di berbagai bagian imperium kecuali Spanyol. Di sana seorang putra Bani Umayah mendirikan pemerintahan yang merdeka.

Pendiri dinasti Umayah yang merdeka ini ialah Abdurrahman I, cucu Khalifah Umayah ke 10, Hisyam. Dia adalah salah seorang di antara sedikit Bani Umayah yang terlepas dari Pembalasan dendam yang keji dari khalifah Abbasyiah yang pertama, Asaffah. Setelah singgah lima tahun di Palestina, Mesir, dan Afrika, akahirnya dia sampai di Geuta. Disana dia diberi perlindungan oleh seorang Berber, keluarga pamannya dari pihak ibu. Kemudian mengutus pelayannya, Badar, untuk berunding dengan orang-orang Siria di Spanyol. Orang-orang Siria merupakan pendukung utama bani Umayah, dan mereka siap menyambut pemuda petualang dari dinasti kesayangannya itu. Karena itu Abdurrahman pergi ke Spanyol dan memperoleh sambutan hangat pada tahun 755 M. Pribadi yang menarik dari seorang Petualang muda ini serta nama besar keluarganya, membuat dia memperoleh dukungan rakyat. Gubernur Abbasiyah yang lemah memeranginya di Masarah. Pertempuran Masarah itu merupakan pertempuran yang menentukan. Yusuf gubernur Abbasiyah untuk Spanyol, dikalahkan karena Khalifah Manshur tidak dapat mengirimkan bantuan pada waktunya. Abdurrahman menjadi penguasa Spanyol dan menempatkan dirinya di Singgasana Spanyol sebagai seorang amir yang merdeka (756 M).maka di dalam masa enam tahun sejak kejatuhan pemerintahan Umayah, suatu dinasti Umayah yang baru didirikan di Spanyol.[13]

Semenjak menjabat sebagai penguasa Spanyol, Abdur Rahman menghadapi berbagai gerakan pemberontakan internal. Gangguan pihak luar yang terbesar adalah serbuan pasukan papin, seorang raja prancis dan putranya bernama Charlemagne. Namun pasukan penanggung jawab ini dapat dikalahkan oleh kekuatan Abdur Rahman. Belum selesai menangani aksi pemberontakan ia keburu meninggal dunia pada tahun 172 H/788 M., sebelum Amirat Umayah di Spanyol ini berdiri tegak.[14]



- Hisyam I (172-180 H/788-796 M)

Abdur Rahman di gantikan oleh putranya yang bernama Hisyam I (172-180 H/788-796 M). Ia merupakan penguasa yang lemah lembut dan administrator yang liberal. Ia menghadapi pemberontakan yang dilancarkan oleh saudaranya sendiri di Toledo, yakni Abdullah dan Sualiman. Pemberontakan ini dapat ditaklukan oleh Hisyam. Selanjutnya Hisyam mengarahkan perhatiannya ke wilayah utara. Umat Kristen yang tidak henti-hentinya melancarkan gangguan keamanan ditindasnya sekaligus berhasil mengalahkan kekuatan perancis. Kota Norebonne ditaklukkannya, sementara suku-suku yang tinggal di Galicia mengajukan perdamaian.

Hisyam merupakan penguasa yang adil, dan bermurah hati khususnya terhadap rakyatnya yang lemah dan miskin. Ia senantiasa ingin mengetahui keluhan si miskin ia senantiasa dengan keluar malam masuk perkampungan di kordoba, dan dengan mengunjungi mereka yang sedang sakit. Lalu meringankan beban mereka dengan membagikan sejumlah uang. Sekalipun tempramennya lemah lembut, namun seringkali ia menunjukan sikap tegas terhadap para pesuruh dan pemberontak yang mengancam stabilitas Negara.





- Hakam I (796-822 M)

Hakam I menggantikan ayahnya, Hisyam I, menduduki tahta Spanyol. Dia adalah orang yang tidak baik dan tidak mulia. Dia suka dilingkungi kemegahan dan pertunjukan-pertunjukan. Pembawaanya suka senang-senang dan menikmati kehidupan yang diperolehnya, dia sangat kecanduan dengan minum anggur.

Tak lama setelah pelantikannya, hakam dihadapkan pada pemberontakan yang hebat dari para pembelot yang dipimpin oleh seorang Faqih. Orang-orang faqih itu sangat mempengaruhi para pembelot yang tinggal dipinggiran kota Cordova sebelah selatan, yang ketika itu ibu kota Spanyol Muslim. Karena kedermawanan kebijakan Hisyam yang disalahgunakan, kaum faqih itu menjadi suatu kekuatan di negeri itu. Dia menghindari semua campur tangan dalam urusan Negara” karena frustasi dalam harapannya memperoleh kekuasaan, dan merasa bangga akan kependetaan mereka, mereka menjadi penghasut dengan pidato-pidato.” Oleh karena itu, kaum faqih berusaha membakar kefanatikan orang-orang Spanyol Muslim. Pengaruh mereka di antara orang-orang itu tak terhingga. Sebagian besar penduduk di seleruh jazirah itu adalah mualaf, yaitu orang-orang yang baru masuk Islam. Mereka diangap rendah oleh orang-orang Arab yang berdarah murni. Pemimpin kaum faqih itu, Yahya bin Yahya, berkomplot dengan sekelompok kaum bangsawan untuk mengangkat seorang paman Hakam ke atas singgasana Kordofa. Akan tetapi, komplotan itu tercium sehingga tokoh-tokoh faqih serta kaum bangsawan, sekitar 72 orang junmlahnya, dibunuh, dan Yahya selamat melarikan diri.[15]

Hakam meninggal pada tahun 207 H/ 822 M, setelah berkuasa selama 26 tahun, suatu periode yang paling banyak diwarnai pertempuran. Ibnu Al-Athir, mencatatnya sebagai penguasa Andalusia pertama yang bijaksana sekaligus ksatria. Satu kekurangannya adalah tidak bersikap ramah terhadap fuqaha. Ia tidak menghendaki campur tangan fuqaha dalam urusan Negara. Inilah sebab timbulnya gerakan fuqaha yang berusaha menggulingkan kekuasaan hakam. Mererka muncul sebagai oposisi hakam dan berusaha menciptakan kegaduhan sehingga melatari gerakan pemberontakan di Gordoha.[16]







- Abdurrahman II (822-852 M)

Hakam digantikan oleh anaknya, Abdurrahman, yang nama panggilannya Ausad.pergantiannya tidak terlepas dari persaingan karena Abdullah, anak Abdurrahman I, melakukan usaha untuk menduduki tahta. Namun hal ini gagal dan Abdullah harus tunduk.

Pemerintahan tidak terlepas dari kesulitan-kesulitan. “orang-orang Kristen dari Merida bangkit memberontak di bawah pimpinan Mahmud bin Al Jabar, bekas pengumpul pajak dan sulaiman bin Martin. Penyebab pemberontakan ini adalah pembebanan pajak atas barang sehari-hari dan kekejaman para mentri serta para pengumpul pajak“. Abdurrahman menumpasnya dengan kekerasan. Bajingan-bajingan itu ditundukkan dan 7000 pemberontak di bunuh. Suatu pemberontakan yang baru pecah di Toledo. Dalam pemberontakan itu para neo/muslim dan orang-orang Yahudi mengambil bagian. Pemberontakan itu dipimpin oleh seorang muallaf yang bernama Hasyim. Akan tetapi, Hasyim dapat dikalahkan dan dibunuh dan para pemberontak itu dicerai-beraikan.

Menjelang akhir pemerintahan, golongan fanatic dari penduduk Kristen di Kordova bangkit memberontak. Pemberontakan ini mengambil sikap yang paling membahayakan. Mereka menghina orang-orang Islamdan menjelek-jelekkan Nabi mereka. Tidak beral;asan bagi orang-orang Kristen untuk mengeluh terhadap pemerintahan Arab. Mereka memperoleh kebebasan beragama, kehidupan social dan ekonomi serta di beri jabatan-jabatan yang penting dalam pengelolaan Negara. Orang-orang Kristen itu sangat terpengaruh olehj kesusaateraan dan bahasa Arab. Mereka juga mengadopsi perilaku dan adat istiadat Arab tanpa memeluk agama Islam. Orang-orang Kristen yang terpengaruh ooleh Arab itu, yang disaebut Mozarab, dibenci oleh saudara-saudaranya yang fanatic dengan mencela mereka sebagai tidak beragama. Pasra pemimpin golongan masyarakat ini adalha seorang pendeta, Enlogios dan sahabatnya, Alvaro. Mereka menggerakkan yang tidak puas dan dengan cara itu meningkatkan kebencian golongan yang keras kepala. “Fitnahan kepada Nabi Muhammad dan kepada Islam oleh orang-orang Kristen mempunyai arti yang sangat pentinmg di dalam sejarah Islam di Spanyol. Hal itu menunjukkan sikap keras kepala orang-orang Kristen yang menolak pemerintahan Muslim dan mengutuk setiap yang berbau Muslim”. Abdurrahman harus mengambil tindakan yang efektif di dalam masalah itu, dan mengakibatkan banyak laki-laki maupun perempuan yang suka rela mati sebagai syuhada.[17]

Abdurrahman mewarisi kejayaan dan kemakmuran yang diciptakan oleh pendahulunya yaitu Hakam. Kerusuhan yang terjadi pada saat itu antara lain ditimbulkan oleh umat Kristen di daerah pendalaman yang dikepalai pimpinan Suku Leon, dan juga terdapat serbuan bangsa Norman terhadap wilayah pantai Spanyol. Kedua kekuatan asing ini dapat dikalahkan pada masa pemerintahan II selama 30 tahun ini, perekonomian rakyat mengalami kemajuan dan kemakmuran. Ia sangat mencintai seni, kepustakaan, dan berusaha membangun Kordoba sebagai Baghdad II. Ia mendirikan sejumlah Istana, taman dan menghiasi Ibukota dengan berbagai bangunan mesjid yang indah. Banyak Ilmuwan berkumpul di istananya yang sebagian mereka berasal dari Baghdad.



- Muhammad I (238-273 H / 853-886 M)

Muhammad menggantikan kedudukan ayahnya yaitu Abdurrahman II. Pada masa ini masyarakat Kristen Toledo dengan bantuan pimpinan suku Leon bangkit menentang Muhammad. Pasukan Muhammad menumpas kekuatan pemberontak dalam pertempuran di Guadelet. Di Kordoba timbul gerakan perusuh. Muhammad segera menempuh langkah-langkah pengamanan ibukota ini dengan menumpas semua kekuatan pemberopntak. Kekacauan di pusat pemerintahan ini dimanfaatkan oleh bangsa Perancis dengan menciptakan gangguan di wilayah utara, dan oleh Normandia yang melancarkan serbuan terhadap wilayah pantai Spanyol. Kedua kekuatan asing ini dapat dikalahkan oleh pasukan Muhammad I. Pada akhir masa pemerintahan, muncul sejumlah pemberontakkan diberbagai pennjuru. Seorang muslim Spanyol yang bernama Musa mengklaim sebagai penguasa atas kota Aragon. Pemberontakan di wilayah barat dipimpin oleh Ibnu Marwan. Pemberontakan terbesar terjadi di wilayah perbukitan antara kota Ronda dan Malaga yang dipimpin oleh Umar ibnu Hafsun.













- Munzir (273-275 H/886-888 M)

Munzir merupakan penguasa yang energik dan pemberani. Seandainya ia berusia panjang, niscaya ia cukup mampu menegakkan kedamaian dan ketertiban Negara. Munzir memimpin sendiri pasukan untuk menghadapi kekuatan Umar ibn Hafsun. Ia keburu meninggal sebelum mengamankan Negara dari gangguan para pemberontak.



- Abdullah (275-300 H/888-912M)

Abdullah merupakan saudara Munzir. Menurut ibn Al-Athir, “Pada masa ini timbul gerakan pemberontakan dan kerusuhan di segenap penjuru wilayah Spanyol. Kondisi ini berlangsung sejak awal masa pemerintahanm Abdullah hingga berakhir”. Ia tidak hanya mendapat perlawanan dari masyarakat Spanyol pedalaman, tetapi kelompok Aristokratis arab juga menentangnya. Pertengkaran yang sengit terjadi antar kelangan Arab, kalangan Seville, kalngan Elvire. Pertengkaran ini sangat mengancam kekuasaaan raja.Umar ibn Hafsun memanfaatkan kondisi pertengkaran ini dengan upaya memperluas wilayah kekuasaan hingga mendekati batas Ibukota. Abdullah mengarahkan pasukannya untuk menumpas gerakan pemberontakan dibawah pimpinan Obaydullah. Pemberontakan yang terbesar selama ini, yakni pemberontakan Umar ibn Hafsun berhasil dikalahkan oleh pasukan Obaydullah, sehingga pemberontakan kecil lainnya segera tunduk kepadanya. Tahta kerajaan berhasil ditegakkannya.[18]



c. Periode ketiga (912-1013M)

Periode ini berlansung mulai dari pemerintahan Aburrahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya “raja-raja kelompok” yang dikenal dengan sebutan Mulk At-Thawa’if. Pada periode ini, Spanyol diperintahn oleh penguas adengan gelar khalifah, pengguanaan gelar khalifah tersebut bermual dari berita yang sampai pada Abdurrahman III, bahwa Al-Muktadir Khalifah Daulah Bani Abbas di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Menurut penilaiannya, keadaan ini menunjukkan bahwa suasana pemerintahan Abbasyiah sedang berada dalam kemelut, ia berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang paling tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Karena itulah, gelar ini dipakai mulai tahun 929 M. khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang yaitu Abdurrahman An-Nasir (912-961 M), Hakam II (961-976 M) dan Hisyam II(976-1009 M).

Pada periode ini umat islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan, menyaingi kejayaan Daulah Abbasyiah di Baghdad. Abdurrahman An-Nasir mendirikan universitas Kordoba. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seporang korektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat.

Awal dari kehancuran Khalifah Bani Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia 11 tahun. Oleh karena itu, kekuasaan aktual berada diterangan para pejabat. Pada tahun 981 M, khalifah menunjuk ibn Abi Amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang yang ambisius yang berhasil menancapkan kekuasaannya secara mutlak dan melebarkan wilayah kekuasaan Islam dengan menyingkirkan rekan-rekan dan saingan-saingannya. Atas keberhasilan-keberghasilannya, dia mendapat gelar Al-Manshur Billah. Ia wafat pada tahun 1002 M dan digantikan oleh anaknya Al-Muzaffar, yang masih dapat mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah wafat pada tahun 1008 M, dia digantikan oleh adiknya yang tidak memilikim kualitas bagi jabatan itu. Dalam beberapa tahun saja, Negara yang tadinya m,akmur dilanda kekacauan dan akhirnya kehancuran total. Pada tahun 1009 M khalifah menguindurkan diri. Beberraapa orang yang dicoba untuk menduduki jabatan itu tidak ada yang sanggup memperbaiki keadaan. Akhirnya, pada tahun 1013 M, Dewan Mentri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu, Spanyol sudah berpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.[19]



- Abdurrahman III (912-961 M)

Abdurrahman III adalah orang yang paling cakap dan paling besar diantara bani Umayah Spanyol. Dia menduduki takhta Spanyol pada tahun 912 M ketika berusia 23 tahun. Dia memiliki kepribadian yang kuat dan mempesonakan, pertimbangan yang tepat, keteguhan hati, dan keberanian. Pemerintahannya membuka pertanda yang menggembirakan bagi jazirah itu karena ia menandai fajar masa kedamaian, kemakmuran, dan kemegahan. Dengan tepat ia telah disebut sang penyelamat imperium Muslim Spanyol. Selama masa pemerintahan pendahulunya, Abdullah, keadaan imperium Spanyol sangat menyedihkan karena kebijakannya yang lemah, licik dan mementingkan diri sendiri. Saat itu merupakan tahap kemerosotan dan terancam bahaya. Banyak gubernur provinsi menyatakan kemerdekaannya. Pada waktu Abdurrahman III naik tahta, bani Umayyah berada dalam keadaan yang paling lemah dan paling menyusut, tetapi ia meninggalkannya dalam keadaan yang paling kuat dan paling luas. Sebenarnya, selama pemerintahannya, kekuasaan Umayyah di Spanyol mencapai puncaknya. Dia naik tahta ketika Spanyol telah meninggalkan masa damai dan tertib diseluruh negeri.

Setelah naik takhta Spanyol, dalam suatu pernyataan Abdurrahman III menuntut semua warganya, tanpa memandang kelas dan kepercayaan, agar tunduk tanpa syarat. Dia membuang kebijakan menggunakan penjahat dan pembangkang dalam pemerintahannya. Kebijakan sama sekali tidak ceroboh, tetapi ditentukan oleh kecenderungan intelektual dan politik masa itu. Rencananya yang besar-besaran, selain membasmi sama sekali kekuatan-kekuatan penyeleweng dan pengacau, adalah mencari semacam keseimbangan politik dan memulihkan perdamaian dan stabilitas imperium Umayah yang kacau itu. Dia diberkati semua bakat dan kemampuan yang diperlukan untuk mengusir rasa takut dan menarik simpati serta kepercayaan.

Abdurrahman membuktikan dirinya sebagai orang yang terhormat. Dia memiliki keteguhan hati dan keberanian yang menjadi ciri para pemimpin manusia di segala zaman. Kebijakannya yang menjadi pegangan dan bijaksana ialah memadamkan semua pemberontakan dan menegakkan kekuasaanya dari Sungai Ebro sampai Atlantik dan dari kaki Pegunungan Pyrenia sampai Gibraltar. Dalam bulan April 913 M dia sendiri memimpin pasukan-pasuakan melawan para pemberontak di selatan. Keinginannya yang nyata untuk bersama-sama merasakan tidak hanya kejayaan, tetapi juga keletihan dan bahaya, membangkitkan kegairahan yang luar biasa pada semangat tentaranya. Pada pertempuran yang pertama, benteng Ecija direbut. Dalam gerakan militer yang berlangsung kurang dari tiga bulan dia merebut provinsi Elvira dan Jean. Puri-puri mereka yang kuat direbut dan dihancurkan, dan seluruh daerah itu dibersihkan dari penjahat. Muhammad, gubernur Seville, tunduk kepada Abdurrahman pada tahun 913 M dan menawarkan bantuan kepadanya. Setelah 31 tahun berjuang terus-menerus, akhirnya Ibnu Hafsun, musuh bani Umayyah yang paling bandel, dihancurkan dan bentengnya, Babastro, diduduki. Begitu pula pemberontak-pemberontak disebelah barat ditundukkan. Merida dan Beja tunduk. Kepala suku Oksonoban, seorang neo muslim, ditundukkan. Setelah pengepungan selama dua tahun, penduduk Toledo menyerah tanpa syarat.



- Hakam II (961-976 M)

Abdurrahman III digantikan oleh anaknya, Hakam II dengan gelar Al Mustansir Billah. Dia mempertahankan menteri-menteri ayahnya dan mengangkat Jafar Al-Asqalabi sebagai perdana menterinya. Selama beberapa tahun sebelum kematian ayahnya, hakam telah turut aktif di dalam pemerintahan negara. Mashudi menyatakan tentang hakam bahwa dia adalah orang yang paling menonjol pada zamannya karena keadilan dan sifat-sifatnya yang sangat baik. Dia adalah seorang yang bijaksana dan adil, terpuji, dan kemasyhuran tentang keadilan dan kebijaksanaannya telah menyebar ke negeri-negeri yang jauh.

Segera setelah Hakam naik takhta, orang-orang kristen di utara bangkit melawan dia. Sancho dan Garcia, masing-masing kepala suku Leon dan Navarre, telah mengikat perjanjian dengan sultan almarhum menjelang akhir kekuasaannya. Akan tetapi, setelah Hakam II naik takhta, kepala-kepala suku kristen ini melepaskan diri dari kekuasaan Sarasen dengan anggapan bahwa Hakam, yang terkenal sebagai orang yang lebih suka perdamaian dan ilmu pengetahuan, tidak akan menuntut syarat-syarat perjanjian itu, dan bahkan seandainya dia menyatakan perang, dia tidak akan mampu menyamai kecakapan militer ayahnya. Akan tetapi, Hakam membuktikan kemampuannya yang sama dalam tugas itu. Hakam II sendiri memimpin suatu ekspedisi. Gonzaleza menderita kekalahan berat di tangannya dan melarikan diri menyebrangi perbatasan. Kemudian Hakam mengirimkan jendralnya, Ghalib, untuk melawan raja Leon. Dengan bantuan gubernur muslim di Saragossa, Ghalib mengalahkan Garcia dan menduduki kota-kota utama. Kota-kota perbatasan Catalonia diserang dan dihancurkan. Kota-kota utama di rebut dengan serangan mendadak. Sancho kemudian menyerah. Gonzalez dari Castile dan Garcia dari Navarre juga menyerah pada tahun 966 M. perbuatan mereka diikuti oleh sekutu-sekutu mereka, pangeran-pangeran dari Barrel dan dari Miron. “peperangan yang berhasil ini,” tulis Dozy, “ berakhir dengan penaklukan semua pangeran Kristen dari utara.”

Khalifah-khalifah Fathimiyah yang menjadi saingan itu mau menyatukan seluruh dunia Islam di bawah pemerintahan mereka. Mereka telah menggunakan angan-angan di kota-kota Spanyol untuk menciptakan kerusuhan. Namun , bahaya itu dengan sangat cekatan dapat dihindarkan

Pada tahun 972 M. Hakam mengirimkan suatu expedisi di bawah pimpinana jendralnya, Gharib, kebagian barat Afrika utara dengan tujuan untuk menghentikan kemajuan Al-Muiz, khalifah fatimiyah di kairo. Hakam memperluas kekuasaannya ke seluruh maroko dengan mengalahkan Idrisiyah pada tahun 975 M.

Hakam II adalah seorang penguasa yang adil dan penuh pengertian. Di melaksanakan upacara-upacara agama dengan ketat dan memaksakan ajaran-ajaran sunnah diseluruh wilayah kekuasaannya. Di mengikuti shalat berjamaah setiap hari jumat dan membagikan derma kepadafakir miskin. Penggunaan anggur dengan keras dilarang olehnya. Dia menegakkan ketentraman di dalam negerinya. Dia adalah seorang yang sangat toleran terhadap agama-agama lain, dan orang-orang menikmati kebebasan beragama secara sempurna. Sumber-sumber alam negeri diusahakan dengan baik. Perdagangan dan perniagaan didorong dan negeri itu menjadi kaya dan makmur khalifah juga menaruh perhatian kepada pekerjaan-pekerjaan umum. Jalan raya diperbaiki. Sumur dan air mancur bagi para musafir disediakan di sepanjang jalan. Pemondokan-pemondokan bagi fakir miskin dan rumah sakit didirikan.[20]

Setelah berhasil mengamankan situasi politik dalam negeri, Hakam selanjutnya menunjukan jati dirinya dalam gerakan pendidikan. Ia mengungguli seluruh penguasa sebelumnya dalam kegiatan intelektual dia mengirimkan sejumlah utusan keseluruh wilayah timur untuk membeli buku-buku dan manuskrip atau harus menyalinnya jika sebuah buku jika tidak terbeli dengan harga mahal, untuk dibawa pulang ke Kordoba. Dalam gerakan ini berhasil mengumpulkan tidak kurang dari 400.000 buku dalam perpustakaan negara di Kordoba. Katalog perpustakaan terdiri 44 jilid. Para ilmuwan, filosof, dan ulama dapat secara bebas memasukinya untuk meningkatkan kecerdasan rakyatnya, ia mendirikan sejumlah sekolahan di ibukota. Hasilnya, seluruh rakyat Spanyol mengenal baca tulis sementara itu umat kristen Eropa kecuali para pendeta dan kaum-kaum para bangsawan, tetap dalam kebodohan, masyarakat atasan sekalipun masih ada yang tidak mengenal baca tulis sama sekali. Universitas kordoba merupakan universitas termasyhur di dunia saat ini. Dengan meninggalnya Hakam pada tahun 366 H atau 976 M. masa kejatyaan dinasti umayah di Spanyol berakhir.[21]







- Hisyam II ( 972 M )

Hakam II digantikan oleh anaknya Hisyam II. Ia berumur 11 tahun pada waktu itu. Karena usianya masih sangat muda, Ibunya yang bernama sultana subh dan seketaris negara yang bernama Muhammad bin abi amir, mengambil alih tugas pemerintahannya. Muhammad bin Abi Amir yang ambisius mengambil semua kekuasaan, dan dengan memakai gelar Hajib Al-Manshur, dia menjadi penguasa negara yang sebenarnya. Sultana subh hanyalah sebagai boneka ditangannya.



- Hajib Al-Manshur (976-1002 M)

Terjadinya nama Hajib Al Manshur adalah Muhammad bin Abi Amir. Nenek moyangnya adalah ahli sastra dan sangat dihormati di istana. Ayah kakeknya, Abdul Malik Al-Ma’afiri, datang ke Spanyol dan bermukim di Torrox, di provinsi Algeciras. Ayahnya, Abu Hafs Abdullah, adalah ahli hukum yang meninggal dunia pada masa akhir kekuasaaan Abdurrahman III.

Muhammad memulai karirnya sebagai orang biasa. Sejak awal sekali dia telah mempunyai ambisi politik yang besar. Sejak masih menjadi mahasiswa dia sudah sangat yakin akan kecerdasan, kecerdikan, dan diplomasikannya, dan meramalkan bahwa pada suatu saat hari dia akan menjadi orang yang paling berkuasa di Spanyol. Setelah lulus ujian hukum dari universitas Cordova, dia mulai mencari nafkahnya sebagai penulis petisi pengasuh anaknya yang masih muda, Hisyam II , kepribadiannya yang menarik dan tingkah lakunya yang menyenangkan segera dia menjadi kesayangan para wanita harem kerajaan, dan terutama permaisuri Hakam II, Sultana Subh. Di kemudian hari pemaisuri mengangkatnya sebagai pengurus harta pribadinya. Kemudian dia diangkat sebagai pengawas percetakan uang di cordova. Dengan bakatnya yang liberal, Manshur mendirikan partai sendiri yang ditujukan untuk kepentingan-kepentingan dirinya. Sasaran pertama Manshur ialah memuaskan segala pikiran Sultan yang berubah-ubah dan melimpahinya dengan hadiah-hadiah. Pada tahun 972 M dia diangkat menjadi Sahib al-Syurthah Cordova. Sebagai prefektus Cordova dia bekerja dengan giat dan adil. Berkat jasanya, dia naik ke kedudukan yang tinggi dan pada usia 31 tahun dia memegang 5 sampai 6 jabatan penting. Kemudian dia diangkat menjadi pengawas umum keuangan.

Begitulah kedudukannya ketika hakam II meninggal. Sultana Subh menggunakan pengaruhya yang sangat besar terhadap urusan-urusan kenegaraan. Manshur yang bersekutu dengan ibu Khalifah yang masih muda itu berusaha agar dirinya berpengaruh terhadap semua urusan kenegaraan. Pertama-tama manshur menekan para “budak” dengan bantuan Perdana Menteri Masyafi. Dengan bantuan mertuanya, Ghalib, Manshur menggulingkan Masyafi dan bangsawan-bangsawan lain yang menentang dianaik takhta sekarang Sultana Subh berbalik menetang Manshur. Dia bahkan berusaha mencari bantuan penguasa Maroko untuk menggulingkan Manshur. Namun, Manshur berhasil membujuk Hisyam agar mengumumkan suatu ketetapan yang mempercayakan semua urusan kenegaraan kepadanya. Dengan demikian Muhammad bin Abi Amir menjadi penguasa Sapanyol yang tak ada tandingannya, dan memakai gelar Al-Manshur Billah.[22]



- Sulaiman.

Muhammad al-Mahdi digantikan tokoh Umayyah lainnya yang bernama Sulaiman. Semenjak masa ini proses kemunduran dan kejatuhan kekhalifahan Spanyol berlangsung secara Cepat. Tidak beberapa lama Hisyam II merebut jabatan khalifah untuk kedua kalinya. Bersamaan dengan ini kordoba, pusat kekhalifahan Spanyol, dilanda kekacauan politik. Akhirnya pada tahun 1013 M. dewan mentri yang memerintahkan kordoba menghapusskan jabatan khalifah. Pada saat ini kekuatan muslim di Spanyol terpecah dalam banyak negara kecil di bawah pimpinsn raja atau muluk al-Thawaif. Tercatat lebih 30 negara kecil yang berpusat di Seville, kordoba, Toledo dan lain-lain.

Kekuatan kristen wilayah utara Spanyol bergerak untuk bangkit.Kekacauan pemerintahan pusat di manfaatkan mereka sebaik-baiknya. Alfonso VI, penguasa Castile yang menjabat sejak tahun 486 H/1065 M., berhasil menyatukan tiga basis kekuatan kristen : Castile, Leon, dan Navarre, menjadi sebuah kekuatan militer hebat untuk menyerbu Toledo.[23]



d. Periode keempat (1013-1086 M)

Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth-Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville. Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada diantara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya, orang-orang kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana dana sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana lain.[24]



e. Periode Kelima (1086-1248 M)

Sekalipun pada masa ini kekuatan muslim Spanyol terpecah menjadi sejumlah negara kecil, namun terdapat kekuatan yang dominan yakni dinasti Murabithun (1086-1143 m). dan diansti Murabithun pada mulanya merupakan gerakan keagamaan di Afrika utara yang dipimpin oleh tokoh-tokoh agama (kiai) yang tinggal di Ribath (sejenis surau) yang dipimpin oleh seorang guru yang bernama Abdullah ibn Yasin. Gerakan Ribath ini berubah menjadi gerakan militer yang melakukan gerakan expansi di bawah pimpinan ibn Tasyfin yang berpusat di kota Marrakusy.

Ia masuk ke Spanyol atas “undangan” penguasa-penguasa Islam di sana yang telah memikul beban berat perjuangan mempertahankan negeri-negerinya dari serangan-serangan orang-orang kristen. Ia dan tentaranya memasuki Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia. Karena perpecahan di kalangan raja-raja muslim, Yusuf melangkah lebih jauh untuk manguasai Spanyol dan ia berhasil untuk itu. Akan tetapi, penguasa-penguasa sesudah ibn Tasyfin adalah raja-raja yang lemah. Pada tahun 1143 M, kekuasaan diansti ini berakhir, baik di Afrika utara maupun di Spanyol dan digantikan oleh dinasti Muwahhidun.

Al-Muwahhidun didirikan oleh ibn Tumart, berasal dari kawasan sus di Afrika Utara. Ibn Tumart menamakan gerakannya dengan al-Muwahhidun karena gerakan ini bertujuan untuk menegakkan tauhid (keesaan Allah), menolak segala bentuk pemahaman anthropomorfisme (tajsim) yang dianut oleh Murabitun. Karena itu, semangat perjuangan Ibn Tumart adalah menghancurkan kekuatan Murabithun. Ditangan Abdul Mun’im, seorang panglima militer Ibn Tumart dan sekaligus pengganti kedudukannya, Muwahhidun berhasil memasuki Spanyol. Antara tahun 1114-1154 M., kota-kota muslim di Spanyol.jatuh ke tangannya; kordoba, Almeria, dan Granada. Abdul Mun’im digantikan oleh saudaranya yang bernama Yaqub, dan kemudian tampilah Yaqub sebagai penerusnya. Dalam beberapa generasi ini Muwahhidun mengalami masa-masa kemajuan. Setelah kematian Yaqub, Muwahhidun memasuki masa-masa kemundurannya.bersama dengan kemunduran Muwahhidun ini, Pasukan salib yang telah dikalahkan oleh salahuddin di palestina kembali ke eropa dan mulai menggalang kekuasaan baru di bawah pimpinan Alfanso IX. Kekuasaan keristen ini mengulangi serangannya ke Andalusia. Kali ini mereka berhasil mengalahkan kekuatan muslim Muwahhidun. Setelah beberapa kali mengami kekalahan dan terusterdesak, akhirnya penguasa Muwahhidun meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara (Marokko). Sepeninggalan Muwahhidun ini, di Spanyol timbul kembali sejumlah kerajaan kecil. Di antara mereka yang terbesar adalah kekuatan Muhammad ibn Yusuf ibn Nash yang lebih terkenal sebagai " ibn Ahmad". Ia berhasil menegakkan sebuah kerajaan selama kurang lebih 2 abad.[25]



f. Periode keenam (1248-1492 M)

Pada periode ini, islam hanya berkuasa di daerah Granada, dibawah dinasti bani Ahmar (1232-1492 M). peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman an- Nasir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya berkuasa diwilayah yang terkecil. Kekuasaan islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai pengganti menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha memberantas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh kemudian digantikan oleh Muhammad ibn Sa'ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdinand an Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang syah dan Abu Abdullah naik tahta.

Tentu sasja, Ferdinan dan Isabella yang mempersatukan dua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup merasa puas. Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdinan dan Isabela. Dan keudian dia hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol pada tahun 1492 M. umat islam setelah itu dihadapjkan pada 2 pilihan, masuk Krusten atau meniggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat islam di daerah ini.[26]



IV. SEBAB RUNTUHNYA KERAJAAN ISLAM DI SPANYOL



1. Konflik Islam dengan Kristen

Para penguasa muslim tidak melakukan islamisasi secara sempurna. Mereka sudah merasa puas dengan hanya menagih upeti dari kerajaan-kerajaan Kristen taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan hokum dan adapt mereka termasuk posisi hierarkhi tradisional asal tidak ada perlawanan bersenjata. Namun demikian, kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen. Hal itu menyebabkan kehidupan Negara Islam di Spanyol tidak pernah berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen. Pada abad ke-11 M umat Kristen memperoleh kemajuan pesat, sementara umat Islam sedang mengalami kemunduran.



2. Tidak adanya ideology pemersatu

Kalau di tempat-tempat lain para mukallaf diperlakukan sebagai orang Islam yang sederajat di Spanyol, sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tidak pernah menerima orang-orang pribumi. Setidak-tidaknya sampai ke-10 M, mereka masih memberi istilah 'Ibad dan muwalladun kepada para mukallaf itu, suatu ungakpan yang dinilai merendahkan. Akibatnya, kelompok-kelompok etnis non-Arab yang ada sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal itu mendatangkan dampak besar terhadap sejarah sosio-ekonomi negri tersebut. Hal ini menunjukkan tidak adanya ideology yang dapat memberikan makna persatuan, disamping kurangnya figure yang dapat menjadi personifikasi ideology itu.



3. Kesulitan Ekonomi

Di paruh kedua masa kedua Islam di Spanyol, para penguasa membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat "serius", sehingga lalai membina perekonopmian. Akibatnyaq timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan mempengaruhi kondisi politik dan militer.

4. Tidak jelasnya Sistem Peralihan Kekuasaan

Hal ini menyebabkan perebutan kekuasaan diantara ahliwaris. Bahkan, karena inilah kekuasaan bani Umayyah runtuh dan Muluk At-Thawa'if muncul ke Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol jatuh ketangan Ferdinand an Isabela, diantaranya juga disebabkan permasalahan ini.



5. Keterpencilan

Spanyol Islam bagaikan terpencil dari dunia Isllam yang lain. Ia selalu berjuang sendiri, tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Dengan demikian tidak ada kekuatan alternative yang mampu membendung kebangkitan Kristen disana.[27]



V. KEMAJUAN PERADABAN

Dalam masa lebih dari tujuh abad, kekuasaan Islam di Spanyol, umat islam telah mencapai kejayaan disana, banyak prestasi yang mereka peroleh. Bahakan pengaruhnya membawa Eropa dan kemudian Dunia kepada kemajuan yang lebh kompleks.



Kemajuan Intelektual
Spanyol adalah negri yan subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir.

Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (utara dan selatan), Al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara), Al-Shaqalibah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan salam intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan kebangkitan Ilmiah, Sastra dan pembvangunan Fisik di Spanyol.



Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brillian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M, selama pemerintahan penguasa bani Umayyah yang ke-5, Muhammad bin Abdurrahman (832-886 M).

Atas inisiatif Al-Hakam(961-976 M), karya-karya ilmiah dan filosofis di impor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga, Cordova dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu mernyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan didunia Islam. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin dinasti bani Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.

Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhmmad ibn Al-Sayyigh yang lebih dikenal dengan ibn Bajjah. Dilahirkan di Saragossa ia pindah ke Sevila dan Granada. Meninggal karena keracunan di Fez pada tahun 1138 M dalam usia yang masih muda sepertyi Al-Farabi dan Ibn Sina di Timur, masalah yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Magnum opusnya adalah Tadbir Al-Mutawahhid.

Tokoh utama ke-2 adalah Abu Bakr Ibn Thufa'il, penduduk asli Wadhi' Asy, sebuah dusun kecil disebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M. ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay Ibn Yaqzhan.

Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rasyd, dari Cordova. Ia lahir tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. cirri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama.dia juga ahli Fiqh dengan karyanya Bidayatul Mujtahid.



Sains
Ilmu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas Ibn Farnash termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi.ialah orang pertama yang menemukan perbuatan kaca dari batu. Ibrahim Ibnu Yahya Al Naqqash terkenasl daalm Ilmu Astronomi. Ia dapat menentikan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat mnenetukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad Ibnu Ibas dari cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umm Al-Hasan binti Al Abi Jafar dan saudara perempuan Al-Hafiz adalah dua orang ahli kedoktoran dari kalangan wanita.

Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal. Ibnu jubair dari falencia ( 1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Medinterania dan Sicilia dan Ibnu batutah dari tangier (1304-1377 M) mencapai samudra pasai dan cina. Ibnu Al-Khatib (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan ibnu khaldun dari Thunis perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan bertempat tinggal sdi Spanyol, kemudian pindah ke Afrika. Itulah sebagian besar-besar nama besar dalam bidang sains.



c. Fiqih

Dalam bidang fiqih Spanyol Islam dikenal sebagai penganut mahzab Maliki. Memperkenalkan mahzab ini adalah ziat ibnu abdul arrahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh ibnu Yahya yang menjadi Qodi pada masa Hisyam ibnu ala rahman. Ahli fiqih lainnya diantaranya adalah abu baker ibnu al qutiyah, munzir ibnu said al baluti dan ibnu hazm yang terkenal.



d. Musik dan kesenian

Dalam bidang musik dan bidang seni suara Spanyol Islam mencapai kecermelangan dengan tokohnya al hasan ibnu Hafi yang dijuluki zariyab. Setiap kali diselenggarakan pertemuan dan perjamuan zariyab selalu tampil menunjukan kebolehannya. Ia juga terkenak sebagai pengubah lagu. Ilmu yang dimilikinya itu diturunkan kepada anak-anaknya. Baik pria maupun wanita, dan juga kepada budak-budak, sehingga kemashurannya tersebar luas



e. Bahasa dan Sastra

Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non Islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menduakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dalam bahasa arab baik keterampilan membaca maupun tata bahasa mereka itu antara lain : Ibnu Sayyidi, Ibnu Malik, Pengarang Alfiyah, Ibnu Khuruf, Ibnu al Hajj, Abu Ali Al Isybilli, Abu Al Hasan, Ibnu Usfur, dan Abu Hayyan al Gharnathi.

Seiring dengan kemajuan bahasa itu karya-karya sastra banyak bermunculan seperti al 'Iqd Al Farid karya Ibnu Abdul Rabbih, Al Dzakhirah fi mahasin ahl al-jazirah oleh Ibnu Bassam, kitab ala Qalaid buah karya Al Fath Ibnu Khaqam dan banyak lagi yang lain.



Kemegahan Pembangunan Fisik
aspek-aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian umat Islam sanat banyak. Dalam perdagangan jalan-jalan dan pasar-pasar dibangun bidang pertanian demikian juga dibangun. Sistim Irigrasi baru diperkenalkan kepada masyarakat Spanyol yang tidak mengenal sebelumnya. Dam dam, kanal-kanal, saluran sekunder, tersier dan jembatan-jembatan air didirikan. Tempat-tempat yang tinggi, dengan begitu juga mendapat jatah air. Orang-orang arab memperkenalkan pengaturan hidrolik untuk tujuan edukasi. Kalau dam digunakan untuk mengecek curah aior, waduk (kolam) dibuat untuk konservasi atau penyimpanan air pengaturan hidrolik itu dibangun dengan memperkenalkan roda air asal Persia yang dinamakan maurah (Spanyol : Noria). Disamping itu, orang-orang Islam juga memperkenalkan pertanian padi, perkebunan jeruk, kebun- kebun, dan taman-taman.

Industri disamping pertanian dan perdagangan, juga merupakan tulang punggung ekonomi Spanyol Islam. Diantaranya teztil, kayu, kulit, logam, dan industri barang-barang Tembikat. Namun demikian, pembangunan-pembangunan fisik yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung seperti pembangunan istana, mesjid, pemukiman, dan taman-taman. Diantara pembangunan yang megah adalah mesjid cordova, kota Al-Zahra, dan Istana jafariah di saragosa, tembok Toledo, Istana al Makmun, mesjid Seville dan Istana Al Hmara di Granada



Cordova
Cordova adalah ibukota Spanyol sebelum Islam, dan kemudian diambil alih oleh Bani Umayah. Oleh penguasa muslim, kota ini dibangun dan diperindah. Jembatan besar dibangun diatas sungai yang mengalir di tengah kota. Taman-taman kota dibangun untuk menghiasi ibukota Spanyol Islam. Pohon-pohon dan bunga di impor dari timur. Di seputar ibukota berdiri istana-istaan yang megah yang semakin mempercantik pemandangan, setiap Istana dan taman diberi nama tersendiri dan dipuncaknya terpancang Istana damsik.

Diantara kembanggaan kota cordova lainya adalah mesjid cordova. Menurut ibnu al dhalai', terdapat 491 mesjid disana, di samping itu, cirri khusus kota-kota Islam adalah tempat tempat pengundian. Di cordova saja terdapat sekitar 900 pemandian di sekitarnya berdiri perkampungan-perkampungan yang indah. Karena air sungai tak dapat diminum, penguasa muslim mendirikan saluran air dari pergunungan yang panjangnya 80 km



Granada
Granada adalah tempat pertahanan terakhir umat Islam di Spanyol. Diosana berkumpul sisa-sisa kekuatan arab dan pemikir Islam. Posisi cordova diambil alih oleh Granada di masa-masa akhir kekuasaan Islam di Spanyol. Arsitektur bangunannya terkenal diseluruh Eropa Istana al hamra yan gindah dan megah adalah pusat dan puncak ketinggian arsitektur Spanyol Islam. Istana itu dikelilingi taman-taman yang tidak kalah indahnya.

Kisah tentang kemajuan pembangunan fisik ini masih bias di perpanjang dengan kota dan istana al-Zahra, istana al-Gazar, menara Girilda dan lain-lain.



Faktor-faktor pendukung kemajuan
Spanyol Islam, kemajuan yang sangat ditentukan oleh adanya penguasa-pengauasa yang kuat dan berwibawa yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam seperti Abdurrahman al-dakhil, arrahman al waasith dan abdul arrahman annasir

Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya mempelopori kegiatan-kegiatan ilmiah terpenting diantara penguasa dinasti umayah di spanyol dalam hal ini adalah Muhammad ibnu Abdurrahman (852-856 M) dan al hakam II al muntasir (961-976 M).

Toleransi beragama ditegakkan oleh para penguasa terhadap penganut agama Kristen dan yahudi, sehingga mereka ikut berpartisipasi mewujudkan peradaban arab Islam di Spanyol. Untuk orang Kristen, sebagaimana juga otrang-orang yahudi, di sediakan hakim khusus yang menangani masalah sesuai dengan ajaran agama mereka masing-masing.

Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk, terdiri dari berbagai komunitas, baik agama maupun bangsa. Dengan ditegakkannya toleransi beragama, komunitas-komunitas itu dapat bekerjasama dan menyumbangkan kelebihannya

Meskipun ada perjanjian yang sengit antara abassyiah di bagdad dan umayyah di Andalusia hu8bungan budaya dari timur dan barat tidak selalu berupa peperangan. Sejak abad ke 11 M dan seterusnya, banyak sarjana mengadakan perjalanan dari ujung barat wialyah keujuang timur, sambi lmembawa buku-buku dfan gagasan-gagasan. Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun umat Islam terpecah dalam beberapa kesatuan politik, terdapat apa yang disebut kesatuan budaya dunia Islam

Perpecahan politik pada masa muluk al tawaif dan sesudahnya tidak menyebabakan mundurnya peradaban. Masda itu, bahkan, merupakan puncak kemajuan ilmu pengetahuan, kesenian dan kebudayaan Spanyol Islam. Setiap dinasti atau raja id Malaga, Toledo, sevilla, Granada dan lain-lain berusaha menyaingi kordova. Kalau sebelumnya. Kordova merupakan satu-satunnya pusat ilmu dam peradaban Islam di Spanyol muluk atau Thawaif berhasil mendirikan pusat-pusat yang baru yang diantaranya justru maju.



KESIMPULAN



1.Penaklukan Spanyol

- Spanyol ditaklukan oleh Thariq bin Ziyad beserta 7000 pasukannya. Menurut suatu riwayat dia pernah membakar kapal-kapalnya untuk melenyapkan harapan anggota-anggota pasukannya untuk melarikan diri, dan setelah itu dia berpidato:"Saudara-saudara sekalian, kemanakah saudara-saudara hendak melarikan diri? Lautan dibelakang kamu dan musuh dihadapan kamu. Demi Allah teruslah tabah dan sabar…."

- dan ada pula satu riwayat yang menyangkal bahwa Thariq telah membakar kapal-kapalnya. Menurut riwayat itu hanya pidatonya saja yang benar terjadi.

- penaklukan ini terjadi pada masa khalifah Walid bin Abdul Malik



2. Faktor-faktor pendukung penaklukan Spanyol

- Ketidak toleranan dari para penguasa Got terhadap agama selain Kristen

- Keadaan social, politik dan ekonomi yang menyedihkan

- Kejahatan-kejahatan yang telah lama berkecamuk

- Terpecahnya negri itu menjadi Negara-negara kecil ketika bangsa itun diserbu oleh bangsa Teutonik.



3. Perkembangan Islam di Spanyol



a. Periode Pertama (711-755 M)

- Periode ini di pimpin oleh para wali yang berpusat di Damaskus

- Belum tercapainya stabilitas politik

- Gangguan dari dalam kebanyakan terjadi dari kalangan para penguasa yang diakibatkan oleh perbedaan etnis dan golongan yang menimbulkan sering terjadinya perang saudara

- pergantian wali dan persaingan terus menerus

- Gangguan dari yang luar yang datang dari sisa-sisa musuh Islam yang bertempat tinggal di daerah pegunungan

- Belum terjadinya pembangunan di bidang kebudayaan dan peradaban karena terlalu banyak konflik dari dalam.



b. Periode kedua (755-912 M)



# Abdurrahman Ad-Dakhil (756-788 M)

Dinasti Umayyah yang kedua didirikan olehnya, dia mendirikan kekuasaan di daerah Kordova. Ia mengambil langkah-langkah yang keras untuk menumpas para pemberontak. Ia meninggal pada usia 59 tahun dan dimakam kan di Kordova.



# Hisyam (788-796 M)

Ia menjadikan mazhab maliki sebagai mazhab resmi Andalusia. Ia membangun jembatan Kordova dan merampungkan pembangunan mesjid dan gereja yang dimulai oleh ayahnya. Ia adalah penguasa yang adil, lemah lembut dan tegas.



# Hakam (796-822 M)

Dia adalah orang yang tidak baik yang menyukai kemegahan dan kesenangan-kesenagan saja. Pada masa ini terjadi pemberontakan kaum Faqih, pemberontakan Sulaiman dan Abdullah, Pemberontakan penduduk Toledo. Masa ini adalah masa yang paling banyak di warnai pertempuran. Ia wafat pada tahun 822 M. ia juga disebut penguasa Andalusia yang pertama kali disebut sebagai kesatria.



# Abdurrahman II (822-852 M)

Pada masa ini terjadi penyerbuan bangsa Norman dan orang Kristen di Kordova. Ia mempunyai nama panggilan l;ain yaitu Ausat, dia wafat pada tahun 852 M. ia membuat Kordova menjadi Baghdad kedua. Ia mencintai kesusastraan, kesenian dan masyarakat yang berilmu. Ia memperindah kota dengan, gedung, mesjid,air mancur, taman, jalan baru dan persediaan air.

# Muhammad I (853-886 M)

Ia adalah penguasa yang adil bijaksana dan berani ia membuat aturan dan undang- undang pengelolaan Negara. Ia adalah pecinta ilmu dan keindahan seperti ayahnya. Ia wafat pada tanggal 4 agustus 886 M dalam usia 65 tahun. Pada masa ini 8000 orang Kristen dibunuh dan ia melakuakan pertempuran terus menerus untuk menaklukan para pemberontak khususnya penaklukan bangsa Normandia yang kembali muncul.

# Munzir (886-888 M)

Ia adalah penguasa yang enerjik dan pemberani. Ia memimpin sendiri [pasukannya untuk menghadapi Umar ibn Hafsun. Ia wafat sebelum berhasil mengamankan Negara dari para pemberontak.

# Abdullah (888-912 M)

Ia adalah saudara Munzir. Pada masa ini terjadi pemberontakan di seluruh Penjuru.























DAFTAR PUSTAKA



Yatim, Badri, SPI,( Rajawali Pers, 1993, cet ketiga ).

Mahmudunnasir,Syed.Islam (Konsepsi Dan Sejarahnya) Bandung: PT Remaja Rosdakarya.1993.
K.Ali.Sej Islam.Jkt:Srigunting,2003.

A.Syalabi.SKI2,Jkt, PT Al-Husna Zikra.1995.

Wassenstein, David. Politics and Society in Islamic, Spain;New Jersey: Princeton Univercity Press, 1985


[1] Mahmudunnasir, Islam ( Konsepsi dan Sejarahnya),PT.Remaja Rosdakarya, Bandung;1993. hlm 283

[2] Mahmudunnasir., Loc.cit

[3] Ibid,. hlm 284

[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam(Dirasah Islamiyah II),Rajawali Pers, Jakarta;1993 hlm 87

[5] A.Syalabi.Sejarah dan Kebudayaan Islam2,Alhusna Zikri, Jakarta,;1995. hlm 157

[6] Ibid., hlm 158-159

[7] Badri Yatim, Op.cit,. hlm89-90

[8] K.Ali. Sejarah Islam (Tarikh Pramodern),Srigunting, Jakarta;2003 hlm 295-296

[9] A.Syalabi.Op.cit.,hlm 161

[10] K. Ali Log cit hlm 297-298

[11] K Ali op.cit hlm 453

[12] Badri Yatim op cit hlm 93-94 Lih. David Wasenstein, Politics and Society in Islamic, Spain:1026-1086 (New Jersey:Princeton Univercity Perss,1985) hlm 15-16

[13] Mahmudunnasir op cit hlm 284-285

[14] K Ali op.cit hlm 454-456

[15] Mahmudunnasir op cit hlm 290

[16] K Ali op.cit hlm 457

[17] Mahmudunnasir op cit hlm 292-294

[18] K Ali op.cit hlm 458-451

[19] Badri Yatim, op cit Hlm 96-97

[20] Mahmudunnasir op cit hlm 299-306

[21] K Ali Op Cit Hlm 467-468

[22] Mahmudunnasir op cit hlm 308-309

[23] [23] K Ali Op Cit Hlm 470

[24] Badri Yatim Op Cit Hlm 97-98

[25] K Ali Op Cit Hal 471-473

[26] Badri Yatim Op Cit Hlm 99-100

[27] [27] Badri Yatim Op Cit Hlm 107-108

Metodologi Studi Islam

BAB I
PENDAHULUAN

Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin.
Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya, Alquran dan Hadis, tampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti-feodalistik, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan bersikap positif lainnya.
Menurut Fazlur Rahman secara eksplisit dasar ajaran Alquran adalah moral yang memancarkan titik beratnya pada monoteisme dan keadilan sosial. Tesis ini dapat dilihat misalnya pada ajaran tentang ibadah yang penuh dengan muatan peningkatan keimanan, ketaqwaan yang diwujudkan dalam akhlak yang mulia.








BAB II
KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA

A. Pengertian Agama
Secara sederhana, pengertian agama dapat dilihat dari sudut kebahasaan (etimologis) dan sudut istilah (terminologis). Mengartikan agama dari sudut istilah kebahasaan akan terasa lebih mudah daripada mengartikan agama dari sudut istilah karena pengertian agama dari sudut istilah ini sudah mengandung muatan subyektivitas dari orang yang mengartikannya. Atas dasar ini, maka tidak mengherankan jika muncul beberapa ahli yang tidak tertarik mendefinisikan agama. James H. Leuba, misalnya, berusaha mengumpulkan semua definisi yang pernah dibuat orang tentang agama, tidak kurang dari 48 teori. Namun, akhirnya ia berkesimpulan bahwa usaha untuk membuat defenisi agama itu tak ada gunanya karena hanya merupakan kepandaian bersilat lidah. Selanjutnya Mukti Ali pernah mengatakan, barangkali tidak ada kata yang paling sulit diberi pengertian dan defenisi selain dari kata agama. Pernyataan ini didasarkan kepada tiga alasan. Pertama, bahwa pengalaman agama adalah soal batin, subyektif dan sangat individualis sifatnya. Kedua barangkali tidak ada orang yang begitu bersemangat dan emosional daripada orang yang membicarakan agama. Karena itu, setiap pembahasan tentang arti agama selalu ada emosi yang melekat erat sehingga kata agama itu sulit didefinisikan. Ketiga, kosepsi tentang agama dipengaruhi oleh tujuan dari orang yang memberikan definisi tersebut.
Senada dengan Mukti Ali, M. Sastrapratedja mengatakan bahwa salah satu kesulitan untuk berbicara mengenai agama secara umum adalah adanya perbedaan-perbedaan dalam memahami arti agama dan disamping adanya perbedaan juga dalam cara memahmi serta penerimaan setiap agama terhadap suatu usaha memahami agama. Setiap agama memiliki interpretasi diri yang berbeda dan keluasan interpretasi diri itu juga berbeda-beda..
Sampai sekarang perdebatan tentang definisi agama masih belum selesai, sehingga W.H. Clark, seorang ahli Ilmu Jiwa Agama, sebagaimana dikutip Zakiah Daradjat mengatakan, bahwa tidak ada yang lebih sukar daripada mencari kata-kata yang dapat digunakan untuk membuat definisi agama karena pengalaman agama adalah subyektif, intern dan individual, dimana setiap orang akan merasakan pengalaman agama yang berbeda dari orang lain.
Pengertian agama dari segi bahasa dapat kita ikuti antara lain uraian yang diberikan Harun Nasution. Menurutnya, dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenan pula kata din (Ïﻴﻦ ) dari bahasa Arab dan kata religi dalam bahasa Eropa. Menurutnya, agama berasal dari kata sanskrit. Menurut satu pendapat, demikian Harun Nasution mengatakan, kata itu tersusun dari dua kata, a = tidak dan gam = pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun-temurun. Hal demikian menunjukkan pada salah satu sifat agama, yaitu diwarisi secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Selanjutnya ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci, dan agama-agama memang mempunyai kitab-kitab suci.
Selanjutnya din dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan dan kebiasaan
Sementara itu Elizabeth K Nottingham yang pendapatnya tersebut tampak lebih menunjukkan pada realitas objektif, yaitu bahwa ia melihat pada dasaranya agama itu bertujuan mengangkat harkat dan martabat manusia dengan cara memberikan suasana batin yang nyaman dan menyejukkan, tapi juga agama terkadang disalah-gunakan oleh penganutnya untuk tujuan-tujuan yang merugikan orang lain.
Substansi agama bersifat transenden tetapi juga sekaligus imanen. Ia transenden, karena substansi agama sulit didefinisikan dan tidak terjangkau kecuali melalui predikat atau bentuk formalnya yang lahiriah. Namun begitu, agama juga imanen karena sesungguhnya hubungan antara predikat dan substansi tidak mungkin dipisahkan. Kalau saja substansi agama bisa dibuat hierarki, maka substansi agama yang paling primordial hanyalah satu. Ia bersifat parennial, tidak terbatas karena ia merupakan pancaran dari yang mutlak. Ketika substansi agama hadir dalam bentuk yang terbatas, maka sesungguhnya agama pada waktu yang sama bersifat universal sekaligus partikular.
Karena banyaknya definisi tentang agama yang dikemukakan para ahli, Harun Nasution mengatakan bahwa dapat diberi definisi sebagai berikut :
1). Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi;
2). Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia;
3). Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia;
4). Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu;
5). Suatu sistem tingkah laku (code of condut) yang berasal dari kekuatan gaib;
6). Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan gaib;
7). Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia;
8). Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang rasul (utusan Allah).
Selanjutnya, Taib Thahir Abdul Mu’in mengemukakan definisi agama sebagai suatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal untuk dengan kehendak dan pilihannya sendiri mengikuti peraturan tersebut, guna mencapai kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat.
Dari beberapa definisi di atas, kita dapat menjumpai 4 unsur yang menjadi karakteristik agama sebagai berikut :
a). Pertama, unsur kepercayaan terhadap kekuatan gaib.
b). Kedua, unsur kepercayaan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat nanti tergantung pada adanya hubungan yang baik dengan kekuatan yang dimaksud.
c). Ketiga, unsur respon yang bersifat emosional dari manusia
d). Keempat, unsur paham adanya yang kudus (sacred) dan suci, dalam bentuk kekuatan gaib, dalam bentuk kitab suci yang mengandung ajaran-ajaran agama yang bersangkutan, tempat-tempat tertentu, peralatan untuk menyelenggarakan upacara dan sebagainya.
Berdasarkan uraian tersebut di atas kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa agama adalah ajaran yang berasal dari Tuhan atau hasil renungan manusia yang terkandung dalam kitab suci yang turun menurun diwariskan oleh suatu generasi ke generasi dengan tujuan untuk memberi tuntunan dan pedoman hidup bagi manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dari kesimpulan tersebut dapat dijumpai adanya lima aspek yang terkandung dalam agama. Pertama, aspek asal-usulnya, yaitu ada yang berasal dari Tuhan seperti agama samawi, dan ada yang berasal dari pemikiran manusia seperti agama ardli atau agama kebudayaan. Kedua, aspek tujuannya yaitu untuk memberikan tuntunan hidup agar bahagia di dunia dan akhirat. Ketiga, aspek ruang lingkupnya, yaitu keyakinan akan adanya kekuatan gaib, keyakinan manusia bahwa kesejahteraannya di dunia ini dan hidupnya di akhirat tergantung pada adanya hubungan baik dengan kekuatan gaib, respon yang bersifat emosional, dan adanya yang dianggap suci. Keempat, aspek pemasyarakatannya, yaitu disampaikan secara turun temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi lain. Kelima, aspek sumbernya, yaitu kitab suci.

B. Latar Belakang Perlunya Manusia Terhadap Agama
Sekurang-kurangnya ada empat alasan yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama. Keempat alasan tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut :

1. Latar Belakang Fitrah Manusia
Dalam bukunya yang berjudul Perspektif Manusia dan Agama, Murthada Muthahhari mengatakan, bahwa di saat berbicara tentang para nabi, Imam Ali as. menyebutkan bahwa mereka diutus untuk mengingatkan manusia kepada perjanjian yang telah diikat oleh fitrah mereka, yang kelak mereka akan dituntut untuk memenuhinya. Perjanjian itu tidak tercatat di atas kertas, tidak pula diucapkan oleh lidah, melainkan terukir dengan pena ciptaan Allah di permukaan kalbu dan lubuk fitrah manusia, dan di atas permukaan hati nurani serta di kedalaman perasaan batiniah.
ﻓﺄﻗﻢæﺟﻬﻚﻟﻠﺪﻳﻦﺣﻨﻴﻔﺎﻓﻄﺮﺓﺍﷲﻓﻄﺮﺍﻟﻨﺎﺱﻋﻠﻴﻬﺎ (ﺍﻟﺮﻭã٣٠)

Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetapkanlah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah itu (QS. Al-Rum, 30:30).
Berdasarkan informasi tersebut terlihat dengan jelas bahwa manusia secara fitri merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk beragama. Hal demikian sejalan dengan petunjuk nabi dalam salah satu hadisnya yang mengatakan bahwa setiap anak yang dilahirkan memiliki fitrah (potensi beragama), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Bukti manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi beragama ini dapat dilihat melalui bukti historis dan antropologis. Melalui bukti-bukti historis dan antropologis kita mengetahui bahwa pada manusia primitif yang kepadanya tidak pernah datang informasi mengenai Tuhan, ternyata mereka mempercayai adanya Tuhan, sungguh pun Tuhan yang mereka percayai itu terbatas pada daya khayalnya.
Sebagian hipotesis mengatakan bahwa agama adalah produk rasa takut. Seperti rasa takut manusia dari alam, dari gelegar suara guruh yang menggetarkan, dari luasnya lautan, dan dari deburnya ombak yang menggulung serta gejala-gejala alamiah lainnya. Sebagai akibat dari rasa takut ini, terlintaslah agama dalam benak manusia. Lucterius, seorang filosof Yunani yang pendapatnya dikutip Murthada Muthahhari mengatakan bahwa nenek moyang pertama para dewa adalah dewa ketakutan. Hipotesis lainnya mengatakan bahwa agama adalah produk kebodohan. Sebagian orang percaya bahwa faktor yang mewujudkan agama adalah kebodohan manusia, sebab manusia, sebab dengan wataknya selalu cenderung untuk mengetahui sebab-sebab dan hukum-hukum yang berlaku atas alam ini serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya.
Beberapa hipotesis tersebut telah banyak dibuktikan kegagalannya oleh para ahli karena dasar hipotesis tersebut adalah pemikiran manusia yang terbatas, sedangkan agama yang benar mesti datang dari yang Maha Tidak Terbatas, yaitu Tuhan. Hipotesis tersebut sekedar menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi beragama, namun potensi tersebut jka tidak diarahkan akan keliru hasilnya sebagaimana terlihat pada beberapa hipotesis tersebut. Namun demikian, hal ini tidak berarti akal manusia tidak ada manfaatnya, melainkan menunjukkan bahwa dalam hal beragama akal saja tidaklah cukup.
Informasi lainnya yang menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi beragama dikemukakan oleh Carld Gustave Jung. Jung percaya, bahwa agama termasuk hal-hal yang memang sudah ada di dalam bawah sadar secara fitri dan alami. Selanjutnya William James, seorang filosof dan ilmuan terkemuka dari Amerika mengatakan, ”Kendatipun benar pernyataan bahwa hal-hal fisis dan meterial merupakan sumber tumbuhnya berbagai keinginan batin, namun banyak pula keinginan yang tumbuh dari alam di balik alam material ini”. Buktinya, banyak perbuatan manusia tidak bersesuaian dengan perhitungan-perhitungan material. Sementara itu, Alexis Carell, salah seorang pemenang hadiah Nobel berpendapat bahwa doa merupakan gejala keagamaan yang paling agung bagi manusia, karena pada keadaan itu jiwa manusia terbang melayang kepada Tuhan. Pada bagian lain dari bukunya yang berjudul Doa, Carell mengatakan bahwa pada batin manusia ada seberkas sinar yang menunjukkan kepada manusia kesalahan-kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan yang kadang-kadang dilakukannya. Sinar inilah yang mencegah manusia dari terjerumus ke dalam perbuatan dosa dan penyimpangan.
Adanya naluri beragama (bertuhan) tersebut lebih lanjut dapat semakin diperjelas jika kita mengkaji bidang tasawuf. Ketika kita mengkaji paham hulul dari Al-Hallaj (858 – 933 M) misalnya kita jumpai pendapatnya bahwa pada diri manusia terdapat sifat dasar ke-Tuhanan yang disebut lahut, dan sifat dasar kemanusiaan yang disebut nasut. Demikian pula pada diri Tuhan pun terdapat sifat lahut dan nasut. Sifat lahut Tuhan mengacu pada zat-Nya, sedangkan sifat nasut Tuhan mengacu pada sifat-Nya. Sementara itu sifat nasut manusia mengacu pada unsur lahiriah dan fisik manusi, sedangkan sifat lahut manusia mangacu kepada unsur batiniah dan Ilahiah. Jika manusia mampu merdam sifat nasutnya maka akan tampak adalah sifat lahutnya. Dalam keadaan demikian terjadilah pertemuan antara nasut Tuhan dengan lahut manusia, dan inilah yang dinamakan hulul.
2. Kelemahan dan Kekurangan Manusia
Faktor lainnya yang melatarbelakangi manusia memerlukan agama adalah karena di samping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan. Hal ini antara laian diungkapkan oleh kata Al-Nafs. Menurut Qurash Shihab, bahwa dalam pandangan Alquran, nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna yang berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan, dan karena itu sisi dalam manusia inilah yang oleh Alquran dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar. Kita misalnya ayat yang berbunyi :
ﻭﻧﻔﺲﻭﻣﺎﺳﻮﻫﺎ٧ﻓﺎﻟﻬﻤﻬﺎﻓﺠﻮﺭﻫﺎﻭﺗﻘﻮﻫﺎ(ﺍﻟﺜﻤﺲ)
Demi nafs serta penyempurnaa ciptaan, Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakutan. (QS. Al-Syams) 91 : 7 – 8).
Menurut Quraish Shihab bahwa kata mengilhamkan berarti potensi agar manusia melalui nafs menangkap makna baik dan buruk, serta dapat mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Di sini antara lain terlihat perbedaan pengertian kata ini menurut Alquran dengan terminologi kaum Sufi, yang oleh Al-Qusyairi dalam risalahnya dinyatakan bahwa nafs dalam pengertian sufi adalah sesuatu yang melahirkan sifat tercela dan perilaku buruk. Pengertian kaum Sufi tentang nafs ini sama dengan yang terdapat dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang antara lain menjelaskan bahwa nafs adalah dorongan hati yang kuat untuk berbuat yang kurang baik.
Kaum Mu’tazilah mewajibkan pada Tuhan agar menurunkan wahyu dengan tujuan agar kekurangan yang dimiliki akal dapat dilengkapi dengan informasi yang datang dari wahyu (agama). Dengan demikian, Mu’tazilah secara tidak langsung memandang bahwa manusia memerlukan wahyu.
3. Tantangan Manusia
Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan setan (Lihat QS. 12:5; 17:53). Sedangkan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan uapaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja berupaya ingin memalingkan manusia dari Tuhan.









BAB III
BERBAGAI PENDEKATAN di DALAM MEMAHAMI AGAMA

Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekadar disampikan dalam kotbah, melainkan secara konsepsional menunjukkkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain, yang secara operasional konseptual, dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.
Dalam memahami agama banyak pendekatan yang dilakukan. Hal demikian perlu dilakukan, karena pendekatan tersebut kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan oleh penganutnya.
Berbagai pendekatan tersebut meliputi pendekatan teologis normatif, antropologis, sosiologis, psikologis, historis, kebudayaan dan pendekatan filosofis. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan di sini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hubungan ini, Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigma.
Untuk lebih jelasnya berbagai pendekatan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut :
A. Pendekatan Teologis Normatif
Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka Ilmu Ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan lainnya. Amin Abdullah mengatakan, bahwa teologi, sebagaimana kita ketahui, tidak bisa tidak pasti mengacu kepada agama tertentu. Loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subyektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat adalah merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis.
Menurut pengamatan Sayyed Hosein Nasr, dalam era kontemporer ini ada 4 prototipe pemikiran keagamaan Islam, yaitu pemikiran keagamaan fundamentalis, modernis, mesianis dan tradisionalis. Keempat prototipe pemikiran keagamaan tersebut sudah barang tentu tidak mudah disatukan dengan begitu saja. Masing-masing mempunyai ”keyakinan” teologi yang seringkali sulit untuk didamaikan.
Dari pemikiran tersebut, dapat diketahui bahwa pendekatan teologi dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan lainnya sebagai salah.
Amin Abdullah mengatakan bahwa pendekatan teologi semata-mata tidak dapat memecahkan masalah esensial pluralitas agama saat sekarang ini.
Berkenaan dengan hal di atas, saat ini muncullah apa yang disebut dengan istilah teolgi masa kritis, yaitu suatu usaha manusia untuk memahami penghayatan imannya atau penghayatan agamanya, suatu penafsiranm atas sumber-sumber aslinya dan tradisinya dalam konteks permasalahan masa kini, yaitu teologi yang bergerak antara dua kutub : teks dan situasi; masa lampau dan masa kini.

B. Pendekatan Antropologis
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.

C. Pendekatan Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Soerjono Soekanto mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penilaian.
Dari dua definisi terlihat bahwa sosiologi adalah ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.
Selanjutnya, sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dan ilmu sosiologi.
Jalaluddin Rahmat dalam bukunya yang berjudul Islam Alternatif, menunjukkan betapa besarnya perhatian agama yang dalam hal ini Islam terhadap masalah sosial, dengan mengajukan lima alasan sebagai berikut :
1). Pertama, dalam Alquran atau kitab-kitab hadis, proporsi terbesar kedua sumber hukum Islam itu berkenaan dengan urusan muamalah. Menurut Ayatullah Khomaeni dalam bukunya Al-Hukumah Al-Islamiyah yang dikutip Jalaluddin Rahmat, dikemukakan bahwa perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan sosial adalah satu berbanding seratus – untuk satu ayat ibadah, ada seratus ayat muamalah (masalah sosial).
2). Kedua, bahwa ditekankannya masalah muamalah (sosial) dalam Islam ialah adanya kenyataan bahwa bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan (tentu bukan ditinggalkan), melainkan dengan tetap dikerjakan sebagaimana mestinya.
3). Ketiga, bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan. Karena itu shalat yang dilakukan secara berjemaah dinilai lebih tinggi nilainya daripada shalat yang dikerjakan sendirian (munfarid) dengan ukuran satu berbanding dua puluh derajat.
4). Keempat, dalam Islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kifaratnya (tembusannya) adalah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.
5). Kelima, dalam Islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar daripada ibadah sunnah.
D. Pendekatan Filosofis
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Selain itu, filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha manutkan sebab dan akibat serta berusaha manafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Dalam Kamus Umum Bahsa Indonesia, Poerwadarminta mengartikan filsafat sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas, hukum dan sebagainya terhadap segala yang ada di alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti ”adanya” sesuatu. Pengertian filsafat yang umumnya digunakan adalah pendapat yang dikemukakan Sidi Gazalba. Menurutnya filsafat adalah berpikir secara mendalam, sitemik, radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada.
Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas, dan inti yang terdapat di balik yang bersifat lahiriah.

E. Pendekatan Historis
Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.
Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis.

F. Pendekatan Kebudayaan
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat; dan berarti pula kegiatan (usaha) batin (akal dan sebagainya) untuk menciptakan sesuatu yang termasuk hasil kebudayaan. Sementara itu, Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan segala kacakapan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Dengan demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengarahkan segenap potensi batin yang dimilikinya.

G. Pendekatan Psikologi
Psikologi atau ilmu jiwa adalah jiwa yang mempelajari jiwa seseorang melalui gejala perilaku yang dapat diamatinya. Menurut Zakiah Daradjat, perilaku seseorang yang tampak lahiriah terjadi karena dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya. Ilmu jiwa agama sebagaimana yang dikemukakan Zakiah Daradjat, tidak akan mempersoalkan benar tidaknya suatu agama yang dianut seseorang, melainkan yang dipentingkan adalah bagaimana keyakinan agama tersebut terlihat pengaruhnya dalam perilaku penganutnya.
Dengan ilmu jiwa ini seseorang selain akan mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami dan diamalkan seseorang juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan agama ke dalam jiwa seseorang sesuai dengan tingkatan uasianya. Dengan ilmu agama akan menemukan cara yang tepat dan cocok untuk menanamkannya.

















BAB IV
HUBUNGAN AGAMA
DENGAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

Dunia saat ini tengah memasuki era globalisasi dengan dampak negatif dan positifnya. Di antara dampak negatif tersebut misalnya terjadi dislokasi, dehumanisasi, sekuralisasi dan sebagainya; sedangkan dampak positifnya antara lain terbukanya berbagai kemudahan dan kenyamanan, baik dalam lingkungan ekonomi (ekonosfer), informasi (infosfer), teknologi (teknosfer), sosial (sisosfer) maupun psikolgi (psikosfer).
A. Pandangan Ajaran Islam Tentang Ilmu Sosial
Sejak kelahirannya belasan abad yang lalu, Islam telah tampil sebagai agama yang memberi perhatian pada keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat; antara hubungan manusia dengan Tuhan; antara hubungan manusia dengan manusia; dan antara urusan ibadah dengan urusan muamalah.
Dalam keadaan demikian, kita saat ini nampaknya sudah mendesak untuk mememiliki ilmu pengetahuan sosial yang mampu membebaskan manusia dari berbagai problema tersebut. Ilmu pengetahuan sosial yang dimaksudkan adalah ilmu pengetahuan yang digali dari nilai-nilai agama. Kuntowijoyo menyebutnya sebagai ilmu sosial profetik.

B. Ilmu Sosial Yang Bernuansa Islam
Menurut Kuntowijoyo, kita butuh ilmu sosial profetik, yaitu ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial, tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa dana oleh siapa. Yaitu ilmu sosial yang mampu mengubah fenomena berdasarkan cita-cita etik dan profetik tertentu; perubahan tersebut didasarkan pada tiga hal. Pertama, cita-cita kemanusiaan, kedua, liberasi dan ketiga, transendensi. Cita-cita profetik tersebut dapat diderivasikan dari misi historis Islam sebagaimana terkandung dalam ayat 110 surat Ali Imron sebagai berikut :
(ﺍﻝﻋﻤﺮﺍﻥ١١٠) ﻛﻨﺘﻢﺧﻴﺮﺍﻣﺔﺃﺧﺮﺟﺖﻟﻠﻨﺎﺱﺗﺄﻣﺮﻭﻥﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑﻭﺗﻨﻬﻮﻥﻋﻦﺍﻟﻤﻨﻜﺮ
Kamu sekalian adalah sebaik-baiknya umat yang ditugaskan kepada manusia menyuruh berbuat baik, mencegah berbuat munkar dan beriman kepada Allah. (QS. Al-Imron, 110).
Nilai-nilai kemanusiaan (humanisasi), liberasi dan transendensi yang dapat digali dari ayat tersebut dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut :
Pertama, bahwa tujuan humanisasai adalah memanusiakan manusia dari proses dehumanisasi.
Sementara itu tujuan liberasi adalah pembebasan manusia dari lingkungan teknologi, pemerasan kehidupan, menyatu dengan orang miskin yang tregusur oleh kekuatan ekonomi raksasa dan berusaha membebaskan manusia dari belenggu yang kita buat sendiri.
Selanjutnya, tujuan dari transendensi adalah menumbuhkan dimensi transendental dalam kebudayaan.
Dalam ilmu sosial profetik, kita ingin melakukan reorientasi terhadap epistemologi, orientasi terhadap mode of thought dan mode of inquirity, yaitu suatu pandangan bahwa sumber ilmu bukan hanya berasal dari rasio dan empiri sebagaimana yang dianut dalam masyarakat barat, tetapi juga dari wahyu.
C. Peran Ilmu Sosial Profetik Pada Era Globalisasi
Dengan ilmu sosial profetik yang kita bangun dari ajaran Islam sebagaimana tersebut di atas, kita tidak perlu takut atau khawatir terhadap dominasi sains Barat dan arus globalisasi yang terjadi saat ini. Islam perlu membuka diri terhadap seluruh warisan peradaban. Islam adalah sebuah paradigma terbuka.
Sejak beberapa abad yang lalu Islam mewarisi tradisi sejarah dari seluruh warisan peradaban manusia. Kita tidak membangun dari ruang yang hampa. Hal demikian dapat dipahami dari kandungan Surat Al-Maidah ayat 3 yang artinya : Pada hari ini telah aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah aku cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Kata telah Ku-sempurnakan agama-Ku mengandung arti bukan membuat yang baru atau membangun dari ruang yang hampa melainkan dari bahan-bahan yang sudah ada.
Islam mewarisi peradaban Yunani dan Romawi di Barat, peradaban Persia, India dan cina di Timur. Ketika abad VIII – XV peradaban Barat dan Timur tenggelam dan menjalani kemerosotan, Islam bertindak sebagai pewaris utamanya untuk kemudian diambil-alih oleh Barat sekarang melalui renaissans.
Alquran sebagai sumber utama ajaran Islam diturunkan bukan dalam ruang hampa, melainkan dalam setting sosial aktual.
Bukti sejarah tersebut memperlihatkan dengan jelas bahwa dari segi sejak kelahirannya lima belas abad yang lalu Islam telah tampil sebagai agama terbuka, akomodatif serta berdampingan dengan agama, kebudayaan dan peradaban lainnya. Tetapi dalam waktu bersamaan Islam juga tampil memberikan kritik, perbaikan, bahkan penolakan dengan cara-cara yang amat simpatik dan tidak menimbulkan gejolak sosial yang membawa korban yang tidak diharapkan.
Dengan mengikuti uraian di atas, kiranya menjadi jelas bahwa Islam memiliki perhatian dan kepedulian yang tinggi terhadap masalah-masalah sosial. Karena itu, kehadiran ilmu sosial yang banyak membicarakan tentang manusia tersebut dapat diakui oleh Islam. Namun Islam memiliki pandangan yang khas tentang ilmu sosial yang harus dikembangkan, yaitu ilmu sosial profetik yang dibangun dari ajaran Islam dan diarahkan untuk humanisasi, liberasi dan transendensi. Ilmu pengetahuan sosial demikian yang dibutuhkan dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya pada era globalisasi di abad XXI mendatang.













BAB V
PENGERTIAN DAN SUMBER AJARAN ISLAM

Sebagai agama terakhir, Islam diketahui memiliki karakteristik yang khas dibandingkan dengan agama-agama yang datang sebelumnya.
A. Pengertian Agama Islam
Ada dua sisi yang dapat kita gunakan untuk memahami pengertian agama Islam, yaitu sisi kebahasaan dan sisi peristilahan. Kedua sisi pengertian tentang Islam ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Dari segi kebahasaan Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa dan damai. Dan kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian.
Senada dengan pendapat di atas, sumber lain mengatakan Islam berasal dari bahasa Arab, terambil dari kata salima yang berarti selamat sentosa. Dari asal kata itu dibentuk kata aslama yang artinya memelihara dalam keadaan selamat sentosa dan berarti pula menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat.
Dari pengertian itu, kata Islam dekat arti kata agama yang berarti menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan dan kebiasaan.

B. Sumber Ajaran Islam
Di kalangan ulama terdapat kesepakatan bahwa sumber ajaran Islam yang utama adalah Alquran dan Al-Sunnah; sedangkan penalaran atau akal pikiran sebagai alat untuk memahami Alquran dan Al-Sunnah .
1. Alquran
Di kalangan para ulama dijumpai adanya perbedaan pendapat di sekitar pengertian Alquran baik dari segi bahasa maupun istilah. Asy-Syafi’i misalnya mengatakan bahwa Alquran bukan berasal dari akar kata apa pun, dan bukan pula ditulis dengan memakai kata hamzah. Lafal tersebut sudah lazim digunakan dalam pengertian kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Sementara itu Al-Farra berpendapat bahwa lafal Alquran berasal dari kata qarain jamak dari kata qarinah yang berarti kaitan; karena dilihat dari segi makna dan kandungannya ayat-ayat Alquran itu satu sama lain saling berkaitan. Selanjutnya, Al-Asy’ari dan para pengikutnya mengatakan bahwa lafal Alquran diambil dari akar kata qarn yang berarti menggabungkan suatu atas yang lain; karena surat-surat dan ayat-ayat Alquran satu dan lainnya saling bergabung dan berkaitan.
Manna’ al-Qathhthan, secara ringkas mengutip pendapat para ulama pada umumnya yang menyatakan bahwa Alquran adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, dan dinilai ibadah bagi yang membacanya. Pengertian yang demikian senada dengan yang diberikan Al-Zarqani.
2. Al-Sunnah
Kedudukan Al-Sunnah sebagai sumber ajaran Islam selain didasarkan pada keterangan ayat-ayat Alquran dan hadis juga didasarkan kepada pendapat kesepakatan para sahabat. Yakni seluruh sahabat sepakat untuk menetapkan tentang wajib mengikuti hadis, baik pada masa Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat.
Menurut bahasa Al-Sunnah artinya jalan hidup yang dibiasakan terkadang jalan tersebut ada yang baik dan ada pula yang buruk. Pengertian Al-Sunnah seperti ini sejalan dengan makna hadis Nabi yang artinya : ”Barang siapa yang membuat sunnah (kebiasaan) yang terpuji, maka pahala bagi yang membuat sunnah itu dan pahala bagi orang yang mengerjakanny; dan barang siapa yang membuat sunnah yang buruk, maka dosa bagi yang membuat sunnah yang buruk itu dan dosa bagi orang yang mengerjakannya.
Sementara itu Jumhurul Ulama atau kebanyakan para ulama ahli hadis mengartikan Al-Sunnah, Al-Hadis, Al-Khabar dan Al-Atsar sama saja, yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun ketetapan. Sementara itu ulama Ushul mengartikan bahwa Al-Sunnah adalah sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad dalam bentuk ucapan, perbuatan dan persetujuan beliau yang berkaitan dengan hukum.
Sebagai sumber ajaran Islam kedua, setelah Alquran, Al-Sunnah memiliki fungsi yang pada intinya sejalan dengan alquran. Keberadaan Al-Sunnah tidak dapat dilepaskan dari adanya sebagian ayat Alquran :
1). Yang bersifat global (garis besar) yang memerlukan perincian;
2). Yang bersifat umum (menyeluruh) yang menghendaki pengecualian;
3). Yang bersifat mutlak (tanpa batas) yang menghendaki pembatasan; dan ada pula
4). Isyarat Alquran yang mengandung makna lebih dari satu (musytarak) yang menghendaki penetapan makna yang akan dipakai dari dua makna tersebut; bahkan terdapat sesuatu yang secara khusus tidak dijumpai keterangannya di dalam Alquran yang selanjutnya diserahkan kepada hadis nabi.




















BAB VI
KARAKTERISTIK AJARAN ISLAM

Selama ini kita sudah mengenal Islam, tetapi Islam dalam potret yang bagaimanakah yang kita kenal itu, tampaknya masih merupakan suatu persoalan yang perlu didiskusikan lebih lanjut. Misalnya mengenal Islam dalam potret yang ditampilkan Iqbal dengan nuansa filosofis dan sufistiknya. Islam yang ditampilkan Fazlur Rahman bernuansa historis dan filosofis. Demikian juga, Islam yang ditampilkan pemikir-pemikir dari iran seperti Ali Syari’ati, Sayyed Hussein Nasr, Murthada Munthahhari.
Pemikiran para ilmuan Muslim dengan mempergunakan berbagai pendekatan tersebut di atas kiranya dapat digunakan sebagai bahan untuk mengenal karakteristik ajaran Islam, tidak mencoba memperdebatkannya antara satu dan lainnya, melainkan lebih mencari sisi-sisi persamaannya untuk kemaslahatan umat umumnya dan untuk keperluan studi Islam pada khususnya.
A. Dalam Bidang Agama
Melalui karyanya berjudul Islam Doktrin dan Peradaban, Nurcholis Madjid banyak berbicara karakteristik ajaran Islam dalam bidang agama. Menurutnya, bahwa dalam bidang agama Islam mengakui adanya pluralisme. Pluralisme menurut Nurcholis Madjid adalah aturan Tuhan (Sunnah Allah) yang tidak akan berubah, sehingga juga tidak mungkin dilawan atau diingkari.
Karakteristik agama Islam dalam visi keagamaannya bersifat toleran, pemaaf, tidak memaksakan dan saling menghargai karena dalam pluralitas agama tersebut terdapat unsur kesamaan yaitu pengabdian pada Tuhan.
B. Dalam Bidang Ibadah
Karakteristik ajaran Islam selanjutnya dapat dikenal melalui konsepsinya dalam bidang ibadah. Secara harfiah ibadah berarti bakti manusia kepada Allah Swt, karena didorong dan dibangkitkan oleh akidah tauhid.
Visi Islam tentang ibadah merupakan sifat, jiwa, dan misi ajaran Islam itu sendiri yang sejalan dengan tugas penciptaan manusia, sebagai makhluk yang hanya diperintahkan agar beribadah kepada-Nya.

C. Bidang Akidah
Dalam Kitab Mu’jam al-Falsafi, Jamil Shaliba mengartikan akidah menurut bahasa adalah menghubungkan dua sudut sehingga bertemu dan bersambung secara kokoh. Ikatan tersebut berbeda dengan terjemahan kata ribath yang artinya juga ikatan tetapi ikatan yang mudah dibuka, karena akan mengandung unsur yang membahayakan.
Karakteristik Islam yang dapat diketahui melalui bidang akidah ini adalah bahwa akidah Islam bersifat murni baik dalam isinya maupun prosesnya.

D. Bidang Ilmu dan Kebudayaan
Karakteristik Islam dalam bidang ilmu dan kebudayaan bersikap terbuka, akomodatif, tetapi juga selektif. Islam adalah paradigma terbuka. Ia merupakan mata rantai peradaban duni. Dalam sejarah kita melihat Islam mewarisi peradaban Yunani-Romawi di Barat dan peradaban-peradaban Persia, Indi dan Cina di Timur.
Karakteristik Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan dapat dilihat dari 5 ayat pertama surat Al-Alaq yang diturunkan Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw. Pada ayat tersebut terdapat kata iqra’ yang diulang sebanyak dua kali. Kata tersebut menurut A.Baiquni, selain berarti membaca dalam arti biasa, juga berarti menelaah, mengobservasi, membandingkan, mengukur, mendiskripsikan, menganalisis dan penyimpulan secara induktif.

E. Bidang Pendidikan
Islam memaandang bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap orang (education for all), laki-laki atau perempuan dan berlangsung sepanjang hayat (long life education).

F. Bidang Sosial
Ajaran Islam dalam bidang sosial ini termasuk yang paling menonjol karena seluruh bidang ajaran Islam sebagaimana telah disebutkan di atas pada akhirnya ditujukan untuk kesejahteraan manusia.
Menurut penelitian yang dilakukan Jalaluddin Rahmat, Islam ternyata agama yang menekankan urusan muamalah lebih besar daripada urusan ibadah. Islam ternyata banyak memperhatikan aspek kehidupan sosial daripada aspek kehidupan ritual.
G. Dalam Bidang Kehidupan Ekonomi
Karakteristik ajaran Islam selanjutnya dapat dipahami dari konsepsinya dalam bidang kehidupan. Islam memandang bahwa kehidupan yang harus dilakukan manusia adalah hidup yang seimbang dan tidak terpisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Urusan dunia dikejar dalam rangka mengejar kehidupan akhirat dan kehidupan akhirat dicapai dengan dunia. Kita membaca hadis nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Mubarak yang artinya : Bukanlah termasuk orang yang baik di antara kamu adalah orang yang meninggalkan dunia karena mengejar kehidupan akhirat, dan orang yang meninggalkan akhirat karena mengejar kehidupan dunia. Orang yang baik adalah orang yang meraih keduanya secara seimbang, karena dunia adalah alat menuju akhirat, dan jangan dibalik yakni akhirat dikorbankan untuk urusan dunia.

H. Dalam Bidang Kesehatan
Ajaran Islam tentang kesehatan berpedoman pada prinsip pencegahan lebih diutamakan daripada penyembuhan. Berkenaan dengan konteks kesehatan ini ditemukan banyak petunjuk kitab suci dan sunnah Nabi Muhammad Saw. yang pada dasarnya mengerah pada upaya pencegahan diantaranya. Surat Al-Baqarah , 2:222) yang artinya : Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan senang kepada orang-orang yang membersihkan diri. Selain itu Surat Al-Mudatsir 74:4-5) yang artinya : Dan bersihkanlah pakaianmu dan tinggalkanlah segala macam kekotoran.

I. Dalam Bidang Politik
Dalam Alquran Surat An-Nisa’ ayat 156 terdapat perintah menaati ulil amri yang terjemahannya termasuk penguasa di bidang politik, pemerintahan dan negara. Islam menghendaki suatu ketaatan kritis yaitu ketaatan yang didasarkan pada tolak ukur kebenaran dari Tuhan. Jika pemimpin tersebut berpegang teguh pada tuntutan Allah dan rasul-Nya maka wajib ditaati. Sebaliknya, jika pemimpin tersebut bertentangan dengan kehendak Allah dan rasul-Nya, boleh dikritik atau diberi saran agar kembali ke jalan yang benar dengan cara-cara yang persuasif. Dan jika cara tersebut juga tidak dihiraukan oleh pemimpin tersebut, boleh saja untuk tidak dipatuhi.

J. Dalam Bidang Pekerjaan
Islam memandang bahwa kerja sebagai ibadah kepada Allah Swt. Atas dasar ini maka kerja yang dikehendaki Islam adalah kerja yang bermutu, terarah pada pengabdian terhadap Allah Swt, dan kerja yang bermanfaat bagi orang lain.
Untuk menghasilkan produk pekerjaan yang bermutu, Islam memandang kerja yang dilakukan adalah kerja profesional, yaitu kerja yang didukung ilmu pengetahuan, keahlian, pengalaman, kesungguhan dan sebagainya.

K. Islam Sebagai Disiplin Ilmu
Islam juga telah tampil sebagai sebuah disiplin ilmu yaitu ilmu keislaman. Menurut peratutan Menteri Agama Republik Indonesia Tahun 1985, bahwa yang termasuk disiplin ilmu keislaman adalah Alquran/Tafsir, Hadis/Ilmu Hadis, Ilmu Kalam, Filsafat, Tasawuf, Hukum Islam (Fiqih), Sejarah dan Kebudayaan Islam serat Pendidikan Islam.
Islam sebenarnya mempunyai aspek teologi, aspek ibadah, aspek moral, aspek mistisisme, aspek filsafat, aspek sejarah, aspek kebudayaan dan sebagainya.