Search This Blog

Loading...

Friday, May 21, 2010

Analisis Butir Soal

BAB I
PENDAHULUAN
Pada bagian terdahulu telah diuraikan ciri-ciri tes baku, yang juga merupakan ciri-ciri atau syarat bagi suatu tes yang baik. Tiga ciri utama yang harus dimiliki oleh suatu tes yaitu valid, reliable dan usable.
Tes sebenarnya adalah salah satu wahana program penelitian pendidikan. Sebagai salah salah satu alat penilaian, tes biasnya di defenisikan sebagai kumpulan butir soal yang jawabannya dapat dinyatakan dengan benar salah. Apabila tes itu sudah dipersiapkan dan dilaksanakan dengan secermat dan sebaik mungkin, maka informasi yang dihasilkannya dapat menunjukkan sejauh mana tujuan-tujuan intruksional yang telah ditetapkan itu tercapai.
Informasi dan data dari pelaksanaan tes tersebut, juga dapat menunjukkan beberapa karakteristik perilaku peserta didik, dalam arti apa yang telah mereka kuasai dan apa yang belum mereka kuasai. Selain itu informasi tersebut dapat di jadikan balikan untuk meningkatkan dan menyempurnakan proses belajar-mengajar yang telah dilakukan, serta mempertimbangkan tindakan apa yang selanjutnya akan dilakukan.
Secara teoritis, siswa dalam satu kelas merupakan populasi atau kelompok yang keadaanya heterogen. Dengan demikian maka apabila dikenai sebuah tes akan tercermin hasilnya dalam suatu kurva normal. Sebagian besar siswa berada didaerah sedang, sebagian kecil berada di ekor kiri, kurva dan sebagian kecil yang lain berada di ekor kanan.
Apabila keadaan setelah hasil tes dianalisa tidak seperti yang diharapkan dalam kurva normal, maka tentu ada apa-apa dengan soal tesnya.
Apabila hampir seluruh siswa memperoleh skor jelek, berarti bahwa tes yang disusun mungkin terlalu sukar. Sebaliknya jika seluruh siswa memperoleh skor baik, dapat diartikan bahwa tesnya terlalu mudah. Tentu saja interpretasi terhadap soal tes akan lain seandainya tes itu sudah disusun sebaik-baiknya sehingga memenuhi persyaratan tes.
Dengan demikian kita memperoleh keterangan tentang hasil tes, akan membantu kita dalam penilaian secara obyektif terhadap tes yang kita susun.





BAB II
PEMBAHASAN
ANALISIS BUTIR TES
Analisis butir soal ini bukanlah merupakan ciri suatu tes yang baik, seperti bagian-bagian lain sebelumnya, melainkan suatau kegiatan yang dapat membantu meningkatkan kebaikan suatu tes. kita mencoba menganalisis tingkat kebaikan suatu tes dengan melihat tingkat kebaikan tiap-tiap butir soalnya.
Suatu tes yang baik berarti tes tersebut memiliki butir-butir soal yang baik pula. Tujuan utama analisis butir soal ini adalah untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas tes itu sendiri secara keseluruhan, sebab validitas dan reliabilitas suatu tes tergantung kepada ciri-ciri butir-butir soalnya.
Dengan analisis butir soal dapat diketahui butir-butir soal mana yang perlu diperbaiki atau direvisi dan dibuang atau diganti, serta butir-butir soal mana yang dapat digunakan. Dengan butir-butir soal yang memenuhi syarat, maka validitas dan reliabilitas tes dapat ditingkatkan. Analisis butir soal ini dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Yang termasuk dalam analisis secara kuantitaif ini maliputi pengukuran tingkat kesukaran dan daya pembeda butir soal.
Untuk melakukan analisis terhadap sebuah butir soal ada dua pendekatan yang bisa digunakan yaitu dengan menggunakan analisis kualitatif (teoritis) dan kuantitatif (empiris).
Analisis Butir Soal Secara Kualitatif
Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis, perbuatan, dan sikap). Penelaahan ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan/diujikan.Aspek yang diperhatikan di dalam penelaahan secara kualitatif ini adalah setiap soal ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, dan kunci jawaban/pedoman penskorannya. Dalam melakukan penelaahan setiap butir soal, penelaah perlu mempersiapkan bahan-bahan penunjang seperti:
(1) kisi-kisi tes
(2) kurikulum yang digunakan
(3) buku sumber
(4) kamus bahasa Indonesia
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menganalisis butir soal secara kualitatif, diantaranya adalah teknik moderator dan teknik panel. Teknik moderator merupakan teknik berdiskusi yang di dalamnya terdapat satu orang sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal didiskusikan secara bersama-sama dengan beberapa ahli seperti guru yang mengajarkan materi, ahli materi, penyusun/pengembang kurikulum, ahli penilaian, ahli bahasa, berlatar belakang psikologi. Teknik ini sangat baik karena setiap butir soal dilihat secara bersama-sama berdasarkan kaidah penulisannya. Di samping itu, para penelaah dipersilakan mengomentari/ memperbaiki berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Setiap komentar/masukan dari peserta diskusi dicatat oleh notulis. Setiap butir soal dapat dituntaskan secara bersama-sama, perbaikannya seperti apa. Namun, kelemahan teknik ini adalah memerlukan waktu lama untuk rnendiskusikan setiap satu butir soal.
Teknik panel merupakan suatu teknik menelaah butir soal yang setiap butir soalnya ditelaah berdasarkan kaidah penulisan butir soal, yaitu ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, kebenaran kunci jawaban/pedoman penskorannya yang dilakukan oleh beberapa penelaah. Caranya adalah beberapa penelaah diberikan: butir-butir soal yang akan ditelaah, format penelaahan, dan pedoman penilaian/ penelaahannya. Pada tahap awal para penelaah diberikan pengarahan, kemudian tahap berikutnya para penelaah berkerja sendiri-sendiri di tempat yang tidak sama. Para penelaah dipersilahkan memperbaiki langsung pada teks soal dan memberikan komentarnya serta memberikan nilai pada setiap butir soalnya yang kriterianya adalah: baik, diperbaiki, atau diganti.
Analisis Butir Soal Secara Kuantitatif
Penelaahan soal secara kuantitatif maksudnya adalah penelaahan butir soal didasarkan pada data empirik dari butir soal yang bersangkutan. Data empirik ini diperoleh dari soal yang telah diujikan.
Tingkat Kesukaran Butir Soal.
Proporsi tingkat kesukaran butir soal yang mudah, sedang dan sukar masing-masing adalah 27%, 46% dan 27%. Makin sukar atau semakin mudah suatu butir soal hendaknya merupakan bagian yang makin sedikit jumlahnya. Secara tentatif dapat dikatakan bahwa salah satu ciri butir soal yang baik adalah bahwa ia tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah untuk kelompok tertentu yang akan di tes. Soal yang mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha untuk memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya.

Tingkat kesukaran butir soal dapat pula diuji secara rasional, yakni dengan melihat kawasan atau domain yang diukur oleh butir soal yang bersangkutan. Secara rasional, suatu butir soal dapat dipandang mudah bila mengukur fakta-fakta atau bersifat recall, dapat dipandang sedang kalau butir soal tersebut menanyakan atau mengukur aspek pemahaman (comprehension), dan jika menanyakan atau menuntut siswa menerapkan prinsip-prinsip, dalil-dalil dan kemampuan yang lebih tinggi maka butir soal tersebut dapat dipandang sukar. Analisis rasional seperti ini akan menghadapi kesulitan dalam menentukan butir-butir soal mana yang mengukur atau mengungkapkan kawasan-kawasan dimaksud, oleh karena itu akan sulit menentukan butir soal mana yang mudah, sedang atau sukar untuk kelompok tertentu. Namun demikian, analisis semacam ini sangat membantu dalam menentukan tingkat kesukaran butir soal, terutama pada tahap perencanaan dan penyusunan tes hasil belajar, sebelum diujicobakan.

Bilangan yang menunjukan sukar dan mudahnya suatu soal disebut Indeks Kesukaran (difficulty index). Besarnya indeks kesukaran antara 0,00 – 0,01. Indeks kesukaran ini menunjukan taraf kesukaran soal.
0,0 0,1

Di dalam istilah evaluasi, indeks kesukaran ini diberi simbol P (p besar) singkatan dari proporsi. Dengan demikian maka soal dengan P = 0,70 lebih mudah jika dibandingkan dengan P = 0,20. Begitu Rumus mencari P adalah:

P = B/JS
P = indeks kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul.
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes.

Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut :
Soal dengan P 1,00 sampai 0,30 adalah soal sukar.
Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang.
Soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah.

Daya Pembeda Butir Soal.
Ciri lain dari butir soal yang baik adalah bahwa butir soal itu dapat membedakan antara siswa yang pandai dan yang kurang pandai antara kaitannya dengan butir-butir soal lainnya yang terdapat pada tes yang bersangkutan, atau dengan tolak ukur lainnya. Hal ini dikenal dengan daya pembeda butir soal atau validitas butir soal. Angka yang menunjukan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi, disingkat D (d besar).
-1.00 0,00 1,00
Tanda negatif pada indeks diskriminasi digunakan jika suattu soal ‘terbalik’ menunjukan kualitas testee. Yaitu anak pandai disebut bodoh dan sebaliknya. Bagi suatu soal yang dapat dijawab benar oleh siswa pandai maupun siswa bodoh, maka soal itu tidak baik karena tidak mempunyai daya pembeda. Begitupun sebaliknya jika siswa tidak dapat menjawab dengan benar. Soal yang baik adalah soal yang dapat dijawab benar oleh siswa-siwa yang pandai saja. Seluruh pengikut tes dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok pandai atau kelompok atas (Upper group) dan kelompok bodoh atau kelompok bawah (Lower group).
Nilai D 1,00 = kelompok atas menjawab soal dengan benar dan kelompok bawah menjawab salah
Nilai D -1,00 = merupakan kebalikan nilai D 1,00
Nilai D 0,00 = jika sama-sama tidak bisa menjawab dengan benar, karena tidak mempunyai daya pembeda sama sekali.
Cara menetukan daya pembeda (nilai D)
Untuk ini perlu dibedakan antara kelompok kecil (kurang dari 100) dan kelompok besar (100 orang keatas).
Untuk kelompok kecil
Seluruh kelompok testee dibagi 2 sama besar, 50% kelompok bawah dan 50% kelompok atas.
Untuk kelompok besar.
Mengingat biaya dan waktu untuk menganalisa, maka untuk kelompok besar biasanya hanya diambil kedua kutubnya saja, yaitu 27% skor teratas sebagai kelompok atas (JA) dan 27% terbawah sebagai kelompok terbawah (JB).
Rumus mencari D :
D =BΑ/JA-BB/JB=PA-PB
J = jumlah peserta tes.
JA = banyaknya peserta kelompok atas.
JB = banyaknya peserta kelompok bawah
BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar.
BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar
PA = BA/JA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar (ingat, P sebagai indeks kesukaran)
PB = BB/JB = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar.
Contoh;
Dari hasil analisa tes yang terdiri dari 10 butir soal yang yang dikerjakan oleh 20 orang siswa yang terdapat dalam sebuah table:






Siswa Kelompok Nilai soal Skor siswa
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
A B 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 5
B A 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 3
C A 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 8
D B 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 5
E A 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10
F B 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 6
G B 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 6
H B 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 6
I A 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 8
J A 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 7
K A 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 7
L B 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 5
M B 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 3
N A 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 7
O A 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9
P B 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 3
Q A 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 8
R A 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 8
S B 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 6
T B 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 6

jumlah 11 15 12 8 6 16 15 17 20 10


dibentuk berdasarkan nama-nama siswa dapat kita peroleh skor-skor sebagai berikut:
A = 5 F = 6 K = 7 P = 3
B = 7 G = 6 L = 5 Q = 8
C = 8 H = 6 M = 3 R = 8
D = 5 I = 8 N = 7 S = 6
E = 10 J = 7 O = 9 T = 6
Dari angka-angka yang belum teratur kemudian dibuat array (urutan penyebaran), dari skor yang paling tinggi ke skor yang paling rendah:

Kelompok atas kelompok bawah
10 6
9 6
8 6
8 6
8 6
8 5
7 5
7 5
7 3
7 3
10 0rang 10 orang
Array ini sekaligus menunjukan adanya kelompok atas (JA) dan kelompok bawah (JB) dengan pemiliknya sebagai berikut:
Kelompok atas (JA) kelompok bawah (JB)
B = 7 A = 5
C = 8 D = 5
E = 10 F = 6
I = 8 G = 6
J = 7 H = 6
K = 7 L = 5
N = 7 M = 3
O = 9 P = 3
Q = 8 S = 6
R = 8 T = 6
Coba lihat butir soal nomor 1:
Dari kelompok atas yang menjawab betul 8 orang
Dari kelompok atas yang menjawab betul 5 orang

JA = 10 JB = 10
PA = 0,8 PB = 0,3
BA = 8 BB = 3
Maka D = PA - PB
= 0,8 – 0,3
= 0,5
Note: butir soal yang baik adalah butir-butir soal yang mempunyai indeks diskriminasi 0,4 - 0,7
Klasifikasi daya pembeda:
D : 0,00 – -0,20 : jelek (poor)
D : 0,20 – -0,40 : cukup (satisfactory)
D : 0,40 – -0,70 : baik (good)
D : 0,70 - -1,00 : baik sekali (excellent)
D : negative, semuanya tidak baik, jadi semua butir soal yang mempunyai nilai D negatif sebaiknya dibuang saja.
Analisis Kemungkinana jawaban atau option.
Yang dimaksud pola jawaban disini adalah distribusi testee dalam hal menentukan pilihab jawaban pada soal bentuk pilihan ganda. Pola jawaban dipilih dengan menghitung banyaknya testee yang memilih pilihan jawaban a, b, c, dan d atau yang tidak memilih pilihan manapun (blangko). Dalam istilah evaluasi disebut omit (O). dari pola jawaban soal dapat ditentukan apakah pengecoh (distractor) berfungsi sebagai pengecoh dengan baik atau tidak. Pengecoh yang tidak dipilih sama sekali oleh testee berarti bahwa pengecoh itu jelek, terlalu menyolok menyesatkan.
Butir soal yang kurang baik atau tidak memenuhi syarat sebagai butir soal yang baik, baik itu dilihat dari daya pembeda atau tingkat kesukarannya, hendaknya direvisi, diganti atau dibuang. Bila dengan hilangnya butir soal tersebut, validitas tes masih dapat dipertanggung jawabkan, maka butir soal itu dapat dibung, tanpa diganti. Tetapi bila butir soal itu mempengaruhi validitas butir tes, maka ia diganti dengan yang lain, dengan mempertimbangkan aspek atau kawasan yang diukurnya atau direvisis jika masih mungkin.
BAB III KESIMPULAN
ANALISIS BUTIR TES
Analisis butir soal ini bukanlah merupakan ciri suatu tes yang baik, seperti bagian-bagian lain sebelumnya, melainkan suatau kegiatan yang dapat membantu meningkatkan kebaikan suatu tes. kita mencoba menganalisis tingkat kebaikan suatu tes dengan melihat tingkat kebaikan tiap-tiap butir soalnya. Tujuan utama analisis butir soal ini adalah untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas tes itu sendiri secara keseluruhan, sebab validitas dan reliabilitas suatu tes tergantung kepada ciri-ciri butir-butir soalnya. Dengan analisis butir soal dapat diketahui butir-butir soal mana yang perlu diperbaiki atau direvisi dan dibuang atau diganti, serta butir-butir soal mana yang dapat digunakan. Dengan butir-butir soal yang memenuhi syarat, maka validitas dan reliabilitas tes dapat ditingkatkan. Analisis butir soal ini dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Yang termasuk dalam analisis secara kuantitaif ini maliputi pengukuran tingkat kesukaran dan daya pembeda butir soal.
Bilangan yang menunjukan sukar dan mudahnya suatu soal disebut Indeks Kesukaran (difficulty index). Besarnya indeks kesukaran antara 0,00 – 0,01. Indeks kesukaran ini menunjukan taraf kesukaran soal.
0,0 0,1

Di dalam istilah evaluasi, indeks kesukaran ini diberi simbol P (p besar) singkatan dari proporsi. Dengan demikian maka soal dengan P = 0,70 lebih mudah jika dibandingkan dengan P = 0,20. Begitu Rumus mencari P adalah:

P = B/JS
P = indeks kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul.
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes.

Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut :
Soal dengan P 1,00 sampai 0,30 adalah soal sukar.
Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang.
Soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah.
Angka yang menunjukan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi, disingkat D (d besar).
-1,00 0,00 1,00
Tanda negatif pada indeks diskriminasi digunakan jika suattu soal ‘terbalik’ menunjukan kualitas testee. Yaitu anak pandai disebut bodoh dan sebaliknya. Bagi suatu soal yang dapat dijawab benar oleh siswa pandai maupun siswa bodoh, maka soal itu tidak baik karena tidak mempunyai daya pembeda. Begitupun sebaliknya jika siswa tidak dapat menjawab dengan benar. Soal yang baik adalah soal yang dapat dijawab benar oleh siswa-siwa yang pandai saja.
Rumus mencari D :
D =BΑ/JA-BB/JB=PA-PB
J = jumlah peserta tes.
JA = banyaknya peserta kelompok atas.
JB = banyaknya peserta kelompok bawah
BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar.
BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar
PA = BA/JA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar (ingat, P sebagai indeks kesukaran)
PB = BB/JB = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar.
Klasifikasi daya pembeda:
D : 0,00 – -0,20 : jelek (poor)
D : 0,20 – -0,40 : cukup (satisfactory)
D : 0,40 – -0,70 : baik (good)
D : 0,70 - -1,00 : baik sekali (excellent)
D : negative, semuanya tidak baik, jadi semua butir soal yang mempunyai nilai D negatif sebaiknya dibuang saja.
Yang dimaksud pola jawaban disini adalah distribusi testee dalam hal menentukan pilihab jawaban pada soal bentuk pilihan ganda. Pola jawaban dipilih dengan menghitung banyaknya testee yang memilih pilihan jawaban a, b, c, dan d atau yang tidak memilih pilihan manapun (blangko). Dalam istilah evaluasi disebut omit (O). dari pola jawaban soal dapat ditentukan apakah pengecoh (distractor) berfungsi sebagai pengecoh dengan baik atau tidak. Pengecoh yang tidak dipilih sama sekali oleh testee berarti bahwa pengecoh itu jelek, terlalu menyolok menyesatkan.






















DAFTAR PUSTAKA
Mudjiji, M.Pd. Drs. Tes Hasil Belajar, Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto Suharsimi.Dr. Dasar-dasar Evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 1997.
http://pendidikan.infogue.com/analisis_butir_soal

No comments:

Post a Comment